“DEGRADASI MORAL UMAT ISLAM DI INDONESIA EFFEK DARI GLOBALISASI”

href=”https://muhammadfauzanmuttaqin.files.wordpress.com/2014/02/karikatur-by-chandra1.jpg”>Gambar

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

            Indonesia adalah negara yang memiliki penganut agama islam terbesar di dunia. Jumlah orang islam di Indonesia sendiri mencapai 205 juta jiwa atau 88,1 % jumlah keseluruhan penduduk Indonesia pada tahun 2010. Moral atau ahlak orang islam pada relitanya belum bisa terjaga dengan baik, terbukti dengan banyaknya kasus – kasus kejahatan di bumi pertiwi ini yang melakukan adalah kaum muslimin sendiri. Fenomena globalisasi yang telah merubah moral generasi muda yang semakin jelas terlihat. Nilai-nilai sosial yang dulu dijunjung tinggi kini perlahan mulai terkikis oleh kebudayaan “pop” yang menyebar dengan leluasa. Banyak diantara masyarakat yang tidak menyadari akan dampak-dampak globalisasi ini. Akibatnya dengan begitu mudah dampak negatif ini mengotori dan akan segera menggeser peradaban. Masyarakat awam cenderung menikmati globalisasi ini bukan sebagai kemajuan namun hanya kesenangan materi semata.

Remaja yang menjadi korban paling banyak dalam globalisasi ini. Gaya hidup “pop” yang mulai membudaya semakin memperburuk keadaan moral remaja. Sekarang ini, tawuran antar pelajar sudah menjadi berita yang biasa. Pornografi dan kekerasan yang mereka lakukan juga tak luput merupakan efek dari globalisasi ini. Canggihnya koneksi akses internet tanpa batas semakin mempermudah para remaja untuk terjangkit dampak negatif itu. Remaja saat ini juga lebih mementingkan penampilan semata. Mereka menjadi korban iklan dan mode yang sebenarnya merupakan penjajahan besar-besaran. Akan tetapi sayangnya hanya sedikit sekali diantara mereka yang menyadari semua itu. Kebanyakan dari mereka justru terbawa arus hedonism

Dampak – danpak globalisasi  terhadap moral bangsa kita yang sering kita temui, contohnya kasus korupsi pajak negara, dana pembangunan wisma atlit hambalang, dan  yang tertragis bagi islam yaitu korupsi pengadaan al quran dari departemen agama itu karena gaya hidup yang tinggi para pejabat negara. Sedangkan untuk masyarakat contoh adanya pencurian, narkoba, pemerkosaan, pelacuran, bermacam – macam judi, berpakaian ketat, tawuran,penipuan dll yang itu semua orang islam yang melakukan.

           

1.2 Tujuan.

            Tujuan dari penulisan ini antara lain:

  1. Terbentuknya pemikiran kritis umat islam terhadap dampak globalisasi secara moral umat islam.
  2. Mampu memperbaiki diri secara moral dan akhlak.
  3. Menyampaikan dakwahnya sehingga terbentuknya umat muslim yang islami sesuai tuntunan al qur’an dan al hadis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Moral.

Moral berasal dari bahasa latin” mores” yang berarti adat kebiasaan. Dalam bahasa Indonesia moral diartikan susila. Moral merupakan sesuai dengan ide-ide yag umum yang diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan mana yang wajar. Maka dengan demikian moral dan etika ada persamaan, hanhya saja perbedaannya etika bersifat teoritis dan moral bersifat praktik.(hari gunawa, 2012:13) Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, dari W.J.S Poerwodarminto dijelaskan bahwa moral adalah ajaran tentang baik-buruk dari perbuatan. Moral secara terminologis adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar –salah, baik-buruk (Nata 2002)

            Menurut pandangan para ahli filsafat, etika memandang tingkah laku pembuatan manusia secarA universal (umum). Abu ‘Ala al-muudi dalam bukunya, Ethical Viewpoint of islam, memberikan garis terang antara moral islam dengan moral sekuler. Moral islam bersumber pada al-Qur’an dan al- Hadis rosul-Nya. Moral sekuler bersumber pada pikiran dan prasangka manusia yang beragam (hamzah Ya’kub, 1993). Adapun firman allah SWT menjelaskan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. 

2.2. Globalisasi

2.2.1 Pengertian Globalisasi

Bagi masyarakat globalisasi memiliki banyak makna terbukti dengan hadirnya kelompok yang pro maupun kontra terhadap globalisasi itu sendiri. Bagi banyak pendukungnya, globalisasi merupakan kekuatan tak tertahankan yang diinginkan yang menyapu batas-batas, membebaskan individu, dan memperkaya apa saja yang disentuhnya. Sedangkan bagi banyak penentangnya, globalisasi juga merupakan kekuatan tak tertahankan, namun tidak diinginkan (Martin Wolf, 2007:15). Sementara itu menurut Paul Hirst dan Grahame Thompson, globalisasi telah menjadi grand narrative (narasi agung) baru dalam ilmu-ilmu sosial, karena konsep itu menawarkan lebih banyak daripada yang dapat ia wujudkan. Sedangkan menurut Anthony Giddens, globalisasi merupakan kekuatan tak terbendung yang mengubah segala aspek kontemporer (masa kini) dari masyarakat, politik, dan ekonomi (Martin Wolf, 2007: 16). Tidak dapat disangkal bahwa proses globalisasi telah membawa implikasi pada perubahan dalam segala aspek kehidupan manusia, baik berupa perubahan yang mengarah pada kemajuan (progress) maupun perubahan yang bersifat kemunduran (regress).

2.3 Dampak Positif dan Negatif globalisasi terhadap moral Bangsa

Dampak Positif

  1. Penerimaan secara terbuka

Jadi dengan adanya modernisasi dan globalisasi ini masyarakat lebih bisa menerima perkembangan dan kemajuan zaman.

  1. Mengembangkan sikap antisipatif dan selektif kepekaan dalam menilai hal-hal yangsedang terjadi.

Dengan adanya arus modernisasi dan globalisasi ini kita harus mempunyai kepekaan untuk menilai hal-hal yang sedang terjadi . Sehingga kita bisa tau pengaruh yang akan terjadi dan kita bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak.

Dampak Negatif

  1. Moral instan (mendapatkan segala sesuatu di anggap seperti membalikkan telapak tangan tanpa adanya usaha yang keras dan tetesan air mata).
  2. Moral yang lebih menonjolkan penampilan (penggunaan symbol yang menjadi trend) agar dikatakan sebagai orang yang stylis. Dan ini juga sudah menghancurkan nilai norma berpakaiaan kesopanan Indonesia yang semula sopan (auratnya tertutup) sekarang auratnya di buka agar mendapat pengakuan kata “cantik” dan “seksi” dari orang lain akibat pergeseran nilai agama ke nilai pluralistik.
  3. Moral antipati (masa bodoh dengan masalah orang lain) padahal manusia itu makhluk social.
  4. Moral boros (penggunaan materi/energi yang tidak efektif)
  5. Moral konsumtif (selalu berkeinginan bagaimana bisa membeli tapi bukan bagaimana membuat)
  6. Moral mengotori lingkungan (pembuangan sampah tidak pada tempatnya karena masyarakat saat ini suka membuang terutama di daerah perkotaan akibat dari barang yang dibeli itu sekali pakai).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III. METODE PENULISAN DATA

 

3.1.  Jenis Penulisan

Penulisan dalam karya tulis ilmiah ini menggunakan studi pustaka yaitu dengan literatur atau telaah kepustakaan dan mencari sumber–sumber informasi dan konsep–konsep masalah kemudian memecahkannya.

 

3.2.  Proses Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data yaitu melalui buku atau dari internet yang dapat mendukung solusi pemecahan masalah yang digagas.

3.3.  Pengolahan Data

Metode yang dipakai adalah metode deskriptif analisis yaitu :

  1. Mengidentifikasi permasalahan berdasarkan data dan fakta yang adakemudian dibandingkan dengan teori dan pustaka yang mendukung.
  2. Menganalisis permasalahan berdasarkan pustaka dan data pendukungyang lain.

Mencari pemecahan masalah dari perumusan masalah “Degradasi Moral Umat Islam di Indonesia Effek dari Globalisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV ANALISIS DAN SINTESIS

1.1.            Kondisi Kekinian Pencetus  Gagasan

Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Kamu akan menemukan umat manusia ibarat sumber tambang. Sebaik-baik mereka di zaman jahiliyah adalah yang paling baik pula di dalam Islam selagi mereka menguasai pengetahuan agama. Dan kamu akan menemukan sebaik-baik manusia pada zamannya adalah orang yang sangat kritis terhadap agamanya, serta kamu akan menemukan sejahat-jahat manusia adalah orang yang berwajah mendua (tidak berpendirian). Dia mendatangi sekelompok orang dengan wajah yang satu, dan mendatangi yang lain dengan wajah yang lain pula.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadis tersebut menjelaskan bahwa proses globalisasi telah melahirkan diferensiasi yang meluas, yang tampak dari proses pembentukan gaya hidup dan identitas. Konsekuensinya akan terjadi proses rasionalisasi yang menghadirkan sistem sosial terbuka. Sistem sosial semacam ini berimplikasi pada munculnya kesempatan-kesempatan dan pilihan-pilihan baru bagi publik, juga memunculkan gerakan tandingan dalam berbagai bentuknya (Irwan Abdullah, 2006: 174). Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh (Mansour Fakih 2009: 223), bahwa bersamaan dengan pesatnya kemajuan globalisasi di tingkat internasional hingga tingkat lokal, berbagai korban, terutama masyarakat adat, kaum miskin kota, dan kelompok marjinal lainnya telah mulai dirasakan.

Adapun respon yang dapat diidentifikasi antara lain berupa resistensi dan tantangan terhadap globalisasi (Mansour Fakih, 2009:223-225) dengan penjelasan sebagai berikut:

  1. Gerakan kultural dan agama terhadap globalisasi.
  2. Tantangan dari new social movement dan global civil society terhadap globalisasi.

News social movement merupakan gerakan sosial untuk menentang pembangunan dan globalisasi, seperti gerakan hijau, feminisme, dan gerakan masyarakat akar rumput. Gerakan tersebut tumbuh di mana-mana, dalam skala lokal, nasional, dan bahkan  mengglobal

  1. Tantangan gerakan lingkungan terhadap globalisasi.

Meskipun tidak semua gerakan lingkungan secara langsung menentang globalisasi, berkembangnya gerakan lingkungan yang dipengaruhi kesadaran lingkungan

4.2 Solusi Untuk Meminimalisir Terjadinya Degradasi Moral

Solusi yang coba di tawarkan oleh penulis adalah:

  1. 1.      Pendidikan Moral.

            Dalam sebuah Negara yang memiliki peranan penting dalam pembangunan Negara adalah sector pendidikan sebab pendidikan fungsinya sebagai penegak nilai system masyarakat maka dari itu permasalahan budaya akibat dari globalisasi dapat diselesaikan salah satunya dengan pendidikan moral.

Budaya sendiri diartikan sebagai way of life di dalamnya terdapat moral – moral yang disepakati dan di jalankan bersama sehingga yang menjadi kunci disini adalah bagaimana melalui pendidikan moral ini bisa membentuk moral individu – individu yang baik yang sesuai dengan masyarakat yang ideal yang akhirnya menjadi budaya.

Obyek yang di bidik:

Dalam sebuah tujuan maka akan ada target obyek yang di bidik. Karena yang menjadai masalah adalah budaya sehingga jelas targetnya adalah terhadap manusia/semua individu orang Indonesia bukan hanya kaum intelektual  saja. Karena pendidikan itu bermakna mendewasakan manusia yang isinya ada pembekalan ilmu, transformasi nilai budaya dan pembentukan akhlak/moral.

4.3 Seberapa Jauh Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan Dapat diperbaiki

v  Kekuatan Jati Diri dan Karakter Bangsa

Berbagai problematika yang muncul dalam kehidupan masyarakat seringkali disinyalir sebagai kegagalan institusi pendidikan dalam pengembangan moral. Menurut Jarolimek (Nurul Zuriah, 2007:19), pendidikan moral berusaha untuk mengembangkan pola perilaku seseorang sesuai dengan kehendak masyarakatnya. Kehendak itu berwujud moralitas atau kesusilaan yang berisi nilai-nilai dan kehidupan yang berada dalam masyarakat. Karena menyangkut dua aspek : nilai-nilai dan kehidupan nyata maka pendidikan moral lebih banyak membahas masalah dilema (seperti makan buah simalakama) yang berguna untuk mengambil keputusan moral yang terbaik bagi diri dan masyarakatnya. Sedangkan pendidikan karakter sering disamakan dengan pendidikan budi pekerti. Seseorang dapat dikatakan berkarakter atau berwatak jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya.

Budi pekerti, watak atau karakter, itulah bersatunya gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan, yang lalu menimbulkan tenaga. Dengan adanya budi pekerti itu, tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi), yang memerintah atau menguasai diri sendiri (mandiri). Inilah manusia yang beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besarnya (Ki Hadjar Dewantara, 1977:25). Salah satu faktor terpenting dalam pembentukan karakter ialah pengaruh kelompok terhadap individu selama masa kanak-kanak dan pemuda. Banyak kegagalan integrasi dalam kepribadian terjadi karena adanya konflik antara dua kelompok yang berbeda di mana seorang anak menjadi bagian dari keduanya, sementara kegagalan-kegagalan lain yang timbul dari konflik antara selera kelompok dan selera individu (Bertrand Russel, 1993:68).

Pendidikan yang selama ini cenderung lebih fokus pada transfer of knowledge (pengetahuan-kognitif) seringkali dipersalahkan karena mengabaikan transfer of values (nilai-afektif). Menurut Thomas Lickona sebagaimana diungkapkan dalam (Nurul Zuriah 2007: 12-16) menawarkan sejumlah tugas pendidik yang walaupun berat, namun perlu dilaksanakan sebagai ujung tombak dan penanggung jawab pendidikan moral di sekolah, yaitu: Pendidik haruslah menjadi seorang model  sekaligus mentor dari peserta didik dalam mewujudkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sekolah, Masyarakat sekolah haruslah merupakan masyarakat yang bermoral, Perlunya mempraktikkan disiplin moral, Menciptakan situasi demokratis di ruang-ruang kelas, Mewujudkan nilai-nilai melalui kurikulum, Budaya kerjasama (cooperative learning), Menumbuhkan kesadaran berkarya, Mengembangkan refleksi moral, Mengajarkan resolusi konflik.

4.4 Pihak-Pihak Yang Dipertimbangkan Dapat Membantu

  • Sekolah atau institusi pendidikan.

Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Suyata (2000) mengungkapkan bahwa pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena mendidik anak dalam keterpisahan dengan kebudayaan, ibarat mencerabut siswa dari akar kebudayaannya. Kegiatan pendidikan yang terlepas dari akar budaya, pandangan hidup, dan kesejarahan masyarakatnya akan menimbulkan keterasingan yang mematikan semangat, gairah, atau motivasi untuk membangun kemajuan budaya dalam masyarakatnya (Sodiq A. Kuntoro, 2011:3). Dengan demikian, kita perlu mengembalikan posisi pendidikan sebagai proses pembudayaan untuk mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia yang beradab (civilized human beeing), sesuai dengan konteks sosial budayanya.

  • Lembaga sewadaya masyarakat pendidikan

Lembaga swadaya masyarakat (lsm) adalah organisasi non-pemerintah yang indepanden dan mandiri. Lsm tumbuh secara swadaya, atas kehendak dan keinginan sendiri, ditengah masyarakat, dan berminat serta bergerak dalam dalam serta lingkungan hidup. Lsm pendidikan bergerak dalam pelayanan pendidikan dalam berbagai hal seperti pelatihan,advokasi, memberi informasi dll .

4.5 Langkah-Langkah Strategi Yang Harus Dilakukan.

Ada empat cara/media pendidikan Moral dapat dilaksanakan melalui:

  • Pertama, karena peranan pendidikan formal di anggap paling kuat dalam pembentukan manusia yang berilmu dan berakhlak maka melalui pendidikan formal ini pendidikan moral akan diberikan otomatis akan di masukkan dalam kurikulum nasional di mulai sejak tingkatan sekolah dasar sampai dengan ke perguruan tinggi sehingga nanti yang di tekankan tidak hanya bagaimana bisa menjadi manusia yang pandai saja akan tetapi bagaimana bisa manusia yang berakhlak mulia sehingga di dalamnya tidak saja terjadi proses transfer ilmu pengetahuan tetapi juga terdapat pembentukan moral dan tentu saja semua yang berperanan dalam dunia kependidikan formal (mulai dari kepala sekolah sampai tungkang kebun)harus bisa memberikan contoh moral bagi siswanya dan sesama tenaga kependidikan.
  • Kedua, karena manusia adalah uswah bagi manusia yang lain maka setiap individu diharapkan dapat memberikan contoh moral yang baik terhadap yang lainnya sehingga dengan demikian secara tidak langsung akan membentuk moral – moral yang telah di harapkan sesuai nilai ideal masyarakat yang seimbang
  • Ketiga, melalui lembaga swasta lembaga yang bersifat teknologi informasi dan komunikasi yang membawa pengaruh besar dalam sebuah pendidikan di masyarakat seperti televisi, surat kabar dan lembaga perfilman sebagai media pembawa pesan moral bagi masyarakat.
  • Ke empat, Menguatkan identitas melalui pengembangan kreativitas. Dalam diri manusia, kreativitas memainkan peran vital dan menentukan dalam gerak hidupnya secara individual maupun kolektif. Kreativitas inilah yang mendorong manusia untuk mengembangkan diri. Kreativitas ini terus berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi, yang terakumulasi menjadi kebudayaan dan peradaban. Kreativitas dalam diri manusia memiliki keistimewaan dibanding yang lain, karena dialami secara sadar. Ia tidak hanya aktif, tetapi juga reflektif. Manusia tidak sekedar memproduksi kreativitas, melainkan juga mampu melakukan kritik, memperbaiki, memperbaharui, atau menghapus dan menciptakan yang baru sama sekali. Selanjutnya, manusia bahkan mengkaji dan dapat memahami hakikat kreativitas itu sendiri (Albert Camus, 1998).

Dengan kesadaran akan makna penting kreativitas sebagai daya hidup, dicarilah kondisi-kondisi yang menjadi prasyarat munculnya kreativitas. Secara umum, menurut Albert Camus (1998) ada beberapa prasyarat bagi munculnya kreativitas, yaitu: Kebebasan,Adanya hubungan atau komunikasi, Keberanian. Situasi dan kondisi lingkungan mestinya tidak dibiarkan sebagaimana adanya dan manusia tidak membiarkan dirinya hanyut dalam perubahan sosial yang terjadi. Manusia memiliki idealisme dan cita bagi masyarakat masa depan. Agar cita masyarakat masa depan dapat tercapai, manusia membuat kreativitas dengan menciptakan situasi dan kondisi tertentu (Noeng Muhadjir, 2000).

 

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Proses globalisasi telah melahirkan diferensiasi yang meluas, yang tampak dari proses pembentukan gaya hidup dan identitas. Konsekuensinya akan terjadi proses rasionalisasi yang menghadirkan sistem sosial terbuka, sehingga dampak negative yang diperoleh dari pada dampak positifnya. Realitanya banyak terjadi pencurian, narkoba, pemerkosaan, pelacuran, bermacam – macam judi, berpakaian ketat, tawuran,penipuan dll. Maka dari itu perlunya pendidikan moral yang berusaha untuk mengembangkan pola perilaku seseorang sesuai dengan kehendak masyarakatnya. Dalam meminimalisir degradasi moral perlunya instansi sekolah dan LSM dalam memberikan pendidikan moral yang baik sesuai tuntunan islam.

Saran

Saran saya sebagai penulis kepada para pembaca diharapkan bias tetap menjaga moral diri dalam menghadapi tantangan global, serta bisa mengambil hal-hal positif dari efek globalisasi dengan tetap berpegang teguh kepada pancasila sebagai dasar Negara sehingga bias membantu pembangunan dan peerkembangan Negara serta pada Al-qur’an dan Hadist. Sebagai generasi muda kita harus bias mempertahankan moral bangsa yang sudah dilanda maraknya suatu perubahan yang secara mengglobal ini. Sungguh ironi ketika bangsa ini memiliki generasi yang tidak bias menyaring pengaruh buruk asing yang bisa membuat dirinya terjerumus ke jalan yang menyesatkan. Kita sebagai  generasi muda yang kritis, calon  pendidik wajib menanamkan  pendidikan moral yang baik sebagai benteng  pengaruh negative globalisasi. Selain itu perbanyak mendekatkan diri pada sang pencipta dan meninggalkan larangannya.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA:

Fakih, Mansour. 2009. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar & Insist Press.

Gunawan Heri. 2012. Pendidikan Karakter. Bandung: Alfabeta

Hamzah ,Ya’kub .1988. Etika Islam. Bandung: Diponogoro.

Ki Hadjar Dewantara. 1977. Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Muhadjir, Noeng. 2000. Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial, Teori Pendidikan Perilaku Sosial Kreatif. Yogyakarta : Rake Sarasin.

Russel, Bertrand. 1993. Pendidikan dan Tatanan Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Wolf, Martin. 2007. Globalisasi: Jalan Menuju Kesejahteraan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Zuriah, Nurul. 2007. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan: Menggagas Platform Pendidikan Budi Pekerti secara Kontekstual dan Futuristik. Jakarta: Bumi Aksara.

http://forum.kompas.com/internasional/290441-3-negara-muslim-terbesar-di-dunia.html

http://muslim.or.id/manhaj/solusi-problematika-umat-islam.html

http://binggi.blog.com/2012/05/19/manfaat-moral-dalam-kehidupan-bermasyarakat/

http://agenperubahpendidikan.wordpress.com/2012/06/06/pendidikan-moral-sebagai-solusi-masalah-globalisasi/

http://jega-a-fib11.web.unair.ac.id/artikel_detail-41274-Sebiru%20Sastra%20Indonesia-Etika,Moral%20dan%20Akhlak.html<a

Iklan
By Muhammad Fauzan Muttaqin Posted in informasi