BALI CLASIK CENTRE (BCC) BEAUTY IN BALI

                                         

                         Gambar

 

BALI CLASIK CENTRE (BCC) BEAUTY IN BALI

 

Tinjauan tertulis

       Bali Klasik Centre (BCC) lokasi di Ubud dan ini adalah Taman Wisata khusus dengan desain seni khusus penuh pandang Sawah, pemandangan sungai dan alam udara segar. Bali Klasik Centre (BCC) seperti yang kita disebut Bali Mini adalah salah satu taman wisata dan ini menjelaskan tentang seluruh Bali dengan rincian (melibatkan berbagai macam budaya Bali, tarian Bali, kerajinan Bali dan juga tentang kegiatan kehidupan masyarakat Bali). Ini adalah Wisata Culture Park yang telah lahir di Bali untuk membantu pendidikan pemerintah mengenai Budaya Bali, untuk memperkenalkan dan mempromosikan Budaya Bali nyata kepada orang-orang di seluruh Dunia, di seluruh Indonesia dan terutama bagi masyarakat di Bali. 

      Pendidikan budaya ini juga baik untuk para siswa di sekitar Indonesia dan khususnya mahasiswa di Bali mulai dari Play Group sampai University untuk memiliki lebih banyak pengetahuan tentang Budaya Bali dan dapat membuat silang budaya untuk mempromosikan Budaya Bali kami dengan yang lain siswa seluruh Dunia. Bali Klasik Centre (BCC) – Bali Mini telah menggambarkan dan menjelaskan tentang the Puppet Show dan menunjukkan History nilai dari Hindu. Ada banyak budaya Bali dapat menggambarkan di tempat ini. Bangunan di Bali Klasik Centre (BCC) memiliki karakter khusus dan arsitektur asli dari Bali.

 

Hasil Kunjungan 

       Bali Klasik Centre (BCC) lokasi di Ubud dan ini adalah Taman Wisata khusus dengan desain seni khusus penuh pandang Sawah, pemandangan sungai dan alam udara segar. Bali Klasik Centre (BCC) seperti yang kita disebut Bali Mini adalah salah satu taman wisata dan ini menjelaskan tentang seluruh Bali dengan rincian (melibatkan berbagai macam budaya Bali, tarian Bali, kerajinan Bali dan juga tentang kegiatan kehidupan masyarakat Bali) kata Pemandu. Di sini, artis dunia, Julia Robert, pernah syuting film “Eat, Pray, Love” dengan aura desa yang kental.

       BCC dibangun seorang pengusaha Bali, Pande Ketut Krisna alias Pande Galuh, mulai tahun 1997 hingga 2005 atau membutuhkan waktu tujuh tahunan, karena BCC dibangun seluas 6 hektare. Disebut klasik, karena arsitektur dan penataan bangunan beratapkan alang-alang dan berukiran emas/perada nan unik. “BCC dibuka untuk umum mulai 9 September 2005. Tujuannya, mengenalkan tradisi budaya, tradisi ritual keagamaan, dan tradisi keseharian masyarakat Bali. Saya tidak tahu berapa biaya pembangunannya, tapi gapura dan pendopo utama saja dibangun dengan biaya Rp1 miliar,” ucap staf pemasaran (marketing) BCC, Agung Ngurah Bendesa.

       Di pintu gerbang BCC, kami yang datang langsung disambut dengan iring-iringan orang Bali ala tradisi Melasti menuju wantilan (ruang lobi). Itu tradisi membersihkan diri dari pengaruh luar. Setelah iring-iringan penyambutan ala Melasti, para wisatawan langsung melintasi gapura untuk masuk pendopo. Di pendopo, mereka beristirahat sambil menikmati tarian “Sekar Jagat” dari dua perempuan Bali. Di akhir tarian, pengunjung bisa berfoto bersama dua penari, atau membeli cenderamata khas Bali.

      Dari pendopo, kami keluar ke sisi kanan pendopo untuk melihat lokasi arca dari sembilan dewa, namun sebelum pengenalan para dewa itu, kedatangan kami disambut tarian “Ngelawang Barong Bangkal”. Barong Bangkal adalah barong babi hutan. Tarian itu banyak disukai rombongan kami, karena itu setelah tarian usai, kami menaruh uang di mulut barong bangkal itu sebagai tanda terima kasih kepada penarinya. Ada yang memberi Rp1.000, Rp2.000, Rp5.000, dan ada pula yang lebih dari itu.

       Setelah itu, rombongan kami disambut tabuhan gamelan untuk melihat prosesi pembuatan “Ogoh-ogoh” (boneka raksasa dengan bentuk menyeramkan) menjelang Nyepi, lalu pemandu wisata mengenalkan nama dan peran/fungsi dari sembilan dewa (Dewa Nawa Sanga). Para dewa yang berposisi pada seantero penjuru mata angin itu antara lain adalah Dewa Brahma dengan istrinya Dewi Sri, Dewa Syiwa dengan istrinya Dewi Durga, Dewa Wisnu, dan sebagainya.

Dari pengenalan ritual itu, pengunjung diajak ke lokasi paling belakang dari BCC. Di sana, ada sejumlah tradisi keseharian masyarakat Bali, di antaranya demonstrasi pembuatan canangsari atau wadah untuk sesaji bagi para dewa. “Sesaji itu bisa terdiri dari biskuit, bunga, daun kinang, kapur, dan sebagainya, tapi tidak bisa disebut canangsari bila tidak ada daun kinang yang dibentuk dengan personifikasi tiga dewa yakni Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Syiwa,” ungkap pemandu wisata lainnya di BCC.

Di sebelah proses pembuatan sesaji itu, ada empat seniman yang memainkan musik dan wayang khas Bali yang disebut Wayang Lemah. Dipentaskan pada umumnya siang hari dan dilihat dari fungsinya adalah termasuk kesenian pelengkap upacara keagamaan. Di beberapa tempat disebut dengan Wayang Gedog.Wayang Lemah ini dipentaskan tanpa menggunakan layar atau kelir, dan lampu blencong. Dalam memainkan wayangnya, dalang menyandarkan wayang-wayang pada seutas benang putih (benang tukelan) sepanjang sekitar setengah sampai satu meter yang diikat pada batang kayu dapdap yang dipancangkan pada batang pisang di kedua sisi dalang. Gamelan pengiringnya adalah gender wayang yang berlaras slendro (lima nada). Wayang upacara ini, pementasannya sangat tergantung pada waktu pelaksanaan upacara keagamaan yang diiringinya, sehingga dapat dipentaskan pada siang hari, sore ataupun malam hari.

Pendukung pertunjukan ini adalah yang paling kecil, 3 sampai 5 orang yang terdiri dari seorang dalang dan satu atau dua pasang penabuh gender wayang. Sebagai kesenian upacara, pertunjukan wayang lemah biasanya mengambil tempat di sekitar tempat upacara dengan tidak mempergunakan panggung pementasan khusus. Lakon yang dibawakan pada umumnya bersumber pada cerita Mahabrata yang disesuaikan dengan jenis dan tingkatan upacara yang diiringinya. Jangka waktu pementasan Wayang Lemah pada umumnya singkat, sekitar 1 sampai 2 jam. Dalam peragaan wayang itu menggunakan bahasa campuran, Bahasa Bali dan Bahasa Indonesia.

Di sebelahnya lagi, ada tradisi menumbuk gabah secara tradisional. Tradisi menumbuk gabah padi ladang dengan menggunakan Lesung dan Lumbung. Selanjutnya kulit gabah yang sudah lepas kemudian ditampi dengan menggunakan nampi untuk mendapatkan beras yang siap untuk dimasak. Uniknya untuk menumbuk gabah dengan menggunakan Lesung dan Lumbung dapat dikerjakan lebih dari satu orang dalam sebuah lesung secara bersamaan dan bergantian. Semakin banyak jumlah orang yang bekerja dalam satu lesung akan semakin tinggi tingkat kesukarannya karena memerlukan timing dan akurasi yang sangat tepat untuk tepat di tengah lesung karena jika tidak, gabah akan berhamburan kemana-mana. Menurut penuturan Bapak Duleni, salah satu kepala keluarga yang masih mempertahankan tradisi menumbuk padi, untuk menumbuk padi paling banyak dapat dikerjakan sampai 8 (delapan) orang secara bersamaan, namun hal tersebut saat ini sudah sangat jarang terlihat dan biasanya orang-orang tua yang terlatih yang sanggup melakukannya. Sekarang ini paling banyak biasanya 3 sampai 6 orang.

Di sebelahnya kanannya ada proses pembuatan minyak goreng tradisional dari kelapa. “Dapur orang Bali memang ada di belakang sisi selatan, karena posisi Dewa Brahma dan istrinya Dewi Sri memang ada di selatan,” papar pemandu wisata, Gusti Adiyatmika.

 Setelah itu, para pengunjung BCC diajak ke panggung pertunjukan. Di atas panggung itu disajikan tarian Topeng Lucu, Barong Singa, dan Topeng Tua yang semuanya dimainkan penari pria, lalu diakhiri dengan satu tarian “Joged Bumbung” yang dimainkan penari perempuan. Yang menarik, penari Topeng Lucu datang mendekati pengunjung BCC, terutama anak-anak. Penari Topeng Lucu dengan muka ceria, pipi tembem, mata melotot, dan mulut mirip huruf O itu pun menyalami anak-anak hingga ada sebagian anak-anak yang menangis ketakutan, tapi sebagian lainnya merasa senang. Ketika pemuda yang menari Topeng Lucu itu kembali ke balik panggung, maka tampil dua pemuda dengan tarian Barong Singa, lalu ada pula tarian Topeng Tua. Topeng dengan muka orang yang berusia lanjut berambut putih itu justru membuat anak-anak tidak takut lagi, bahkan sebagian anak-anak pun mendekati penari Topeng Tua itu dengan mendekati panggung pementasan. Tarian diakhiri dengan dua perempuan yang menyajikan tarian “Joged Bumbung”. Kedua penari perempuan itu mendekati pengunjung dewasa, baik perempuan maupun laki-laki untuk diajak menari ke panggung pementasan atau joged bersama, lalu serangkaian kegiatan di BCC pun berakhir.

REKOMENDASI

Menurut kami, wisata Bali klasik Centre (BCC) ini sangat cocok dijadikan sebagai salah satu sumber belajar bagi siswa Sekolah Dasar. Hal ini karena wisata BCC menyediakan berbagai wisata culture yang menyenangkan. Apabila siswa SD dibawa ketempat ini merekan akan senang Karena mereka mendapat pengalaman lebih dan bisa memahami kehidupan masyarakat bali dimasa dahulu mulai dari makna filosofis tarian bali, macam – macam alat music bali, makna dari pembuatan sesaji dan cara merangkainya, kisah Ramayana versi bali yang di mainkan dalam wayang lemah, tradisi menumbuk gabah, dapur bali, dan seluruh kegiatan masyarakat bali tempo dulu. Di BCC ini bisa menjadi suber belajar siswa dalam pembelajaran IPS SD. Sebagai  guru yang baik harus dapat memberikan bukti kebudayan – kebudayaan di Indonesia agar siswa mau menyukai dan melestarikan kebudayaan bangsanya.

 

Referensi

http://www.babadbali.com/seni/wayang/wayang-lemah.htm

http://www.dunia-liburan.com/2009/08/tradisi-menumbuk-padi-bintet.html

Iklan
By Muhammad Fauzan Muttaqin Posted in informasi