Sampingan

Gambar 

Daftar Isi

  1. Kitab Tauhid (Syekh Muhammad bin Abdul Wahab)
  2. Tauhid (Hakekat & Kedudukannya)
  3. Takut Kepada Allah
  4. Taat & CInta Kepada Allah & Rasul-Nya
  5. Allah Swt, Maha Tahu atas Objek yang Diketahui
  6. Allah Swt Maha Berkehendak atas Apa Yang Wujud
  7. Iman Kepada Allah (Tauhid & Tanzih)

 

KITAB TAUHID

 

OLEH
SYEKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB

ALIH BAHASA
M. YUSUF HARUN, MA

بسم الله الرحمن الرحيم
KATA PENGANTAR

الحمد لله الذي جعل التوحيد قاعدة الإسلام وأصله ورأسه، أشهد أن لا إله إلا الله
وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، وصلى الله وسلم عليه وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهديه. أما بعد :

Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukan.
Hanya amal yang dilandasi dengan tauhidullah, menurut tuntunan Islam, yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti.

Allah Ta’ala berfirman :
(مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُون (النحل:97)
“Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki laki maupun perempuan, sedang ia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik lagi dari apa yang telah mereka kerjakan.” ( QS. An Nahl, 97 )

Berdasarkan pada pentingnya peranan tauhid dalam kehidupan manusia, maka wajib bagi setiap muslim memperlajarinya.

Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah ; bukan sekedar mengetahui bukti bukti rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan ) Nya, dan wahdaniyah ( keesaan ) Nya, dan bukan pula sekedar mengenal Asma’ dan SifatNya.
Iblis mempercayai bahwa Tuhannya adalah Allah ; bahkan mengakui keesaan dan kemahakuasaan Allah dengan meminta kepada Allah melalui Asma’ dan SifatNya. Kaum jahiliyah kuno yang dihadapi Rasulullah juga meyakini bahwa Tuhan Pencipta, Pengatur, Pemelihara dan Penguasa alam semesta ini adalah Allah. ( Lihat Al Qur’an 38 : 82, 31 : 25, 23 : 84-89 ). Namun, kepercayaan dan keyakinan mereka itu belumlah menjadikan mereka sebagai makhluk yang berpredikat muslim, yang beriman kepada Allah .
Dari sini timbullah pertanyaan : “Apakah hakekat tauhid itu ?”
Tauhid adalah pemurnian ibadah kepada Allah. Maksudnya yaitu: menghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekwen dengan mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap dan takut kepadaNya.
Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan Allah, dan sesungguhnya misi para Rasul adalah untuk menegakkan tauhid dalam pengertian tersebut di atas, mulai dari Rasul pertama sampai Rasul terahir, yaitu Nabi Muhammad .
( Lihat Al Qur’an 16 : 36, 21 : 25, 7 : 59, 65,73,85, dan lain lain )

Maka buku dihadapan pembaca ini mempunyai arti penting dan berharga sekali untuk mengetahui hakekat tauhid dan kemudian menjadikannya sebagai pegangan hidup.
Buku ini ditulis oleh seorang ulama yang giat dan tekun dalam kegiatan da’wah Islamiyah. Beliau adalah syekh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi, yang dilahirkan di Uyainah, tahun 1115 H ( 1703 M ), dan meninggal di Dir’iyyah (Saudi Arabia ) tahun 1206 H ( 1792 M ).

Keadaan umat Islam – dengan berbagai bentuk amalan dan kepercayaan – pada masa hidupnya, yang menyimpang dari makna tauhid, telah mendorong syekh Muhammad bersama para muridnya untuk melancarkan da’wah Islamiyah guna mengingatkan umat agar kembali kepada tauhid yang murni.
Maka, untuk tujuan da’wahnya beliau menulis sejumlah kitab dan risalah, yang diantaranya :
1-Kasyf Asy Syubuhat
2-Tafsir Al fatihah
3-Tafsir syahadah “La Ilaha Illah”
4-Kitab Al kabair
5-Ushul Al Iman
6-Ushul Al Islam
 ahlal Jahiliyah
r7-Al Masa’il Al lati kholafa fiha Rasulullah
8-Aadab Al Masy-yi Ilash Sholah ( Ala madzhabil Imam Ahmad bin Hambal.
9-Al Amru bil makruf wan Nahyu ‘anil Munkar
10-Mukhtashor Siraturrasul
11-Kitab tauhid alladzi huwa Haqqullah ‘alal ‘ibad.

Buku terahir inilah yang terjemahannya ada di tangan pembaca.
Dan melalui buku ini, beliau berusaha untuk menjelaskan hakekat tauhid, dan penerapannya dalam kehidupan seorang muslim.
Dalam bab I, penulis menjelaskan hakekat tauhid dan kedudukannya ; dalam bab 2 & 3 menerangkan tentang keistimewaan tauhid dan pahala yang diperoleh darinya ; dalam bab 4 mengingatkan agar takut terhadap perbuatan yang bertentangan dengan tauhid, serta membatalkannya, yaitu syirik akbar, atau perbuatan yang mengurangi kesempurnaan tauhid, yaitu syirik ashghor ; dalam bab 5 menjelaskan tentang kewajiban berda’wah kepada tauhid ; dan dalam bab 6 menjelaskan tentang makna tauhid dan syahadat “la Ilaha Illallah”.

Upaya pemurnian tauhid tidak akan tuntas hanya dengan menjelaskan makna tauhid, akan tetapi harus dibarengi dengan penjelasan tentang hal hal yang dapat merusak dan menodai tauhid. Untuk itu, pada bab bab berikutnya, penulis berusaha menjelaskan berbagai macam bentuk tindakan dan perbuatan yang dapat membatalkan atau mengurangi kesempurnaan tauhid, dan menodai kemurniannya, yaitu apa yang disebut dengan syirik, baik syirik akbar maupun syirik ahghor, dan hal hal yang tidak termasuk syirik tetapi dilarang oleh Islam, karena menjurus kepada kemusyrikan, disertai pula dengan keterangan tentang latar belakang historis timbulnya syirik.
Terahir, penulis menyebutkan dalil dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah, yang menerangkan tentang keagungan dan kekuasaan Allah, untuk menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang paling berhak dengan segala ibadah yang dilakukan manusia, dan Dialah Tuhan yang memiliki segala sifat kemuliaan dan kesempurnaan.

Satu hal yang unik dalam metode pembahasan buku ini, bahwa penulis tidak menerangkan atau membahas tauhid dengan cara yang lazim kita kenal dalam buku buku masa kini. Pada setiap bab, penulis hanya menyebutkan ayat ayat Al Qur’an dan hadits hadits serta pendapat pendapat ulama salaf ; kemudian beliau menjabarkan bab-bab itu dengan menyebutkan permasalahan permasalahan penting yang terkandung dan tersirat dari dalil dalil tersebut.
Akan tetapi, justru dengan demikian itulah, buku ini menjadi lebih penting, sebab pembahasannya mengacu kepada kitab dan sunnah yang menjadi sumber hukum bagi umat Islam.
Mengingat amat ringkasnya beberapa permasalahan yang dijabarkan oleh penulis, maka dengan memohon taufiq Allah, penerjemah memberikan sedikit keterangan dan penjelasan dengan diapit oleh tanda dua kurung siku “[ … ]” atau melalui catatan kaki.
Apa yang diharapkan oleh penulis bukanlah sekedar mengerti dan memahami, tapi lebih dari itu, yaitu : sikap dan pandangan hidup tauhidi yang tercermin dalam keyakinan, tutur kata dan amalan.
Semoga buku ini bermanfaat bagi kita dalam usaha mewujudkan ibadah kepada Allah dengan semurni-murninya.
Hanya kepada Allah kita menghambakan diri, dan hanya kepadaNya kita memohon pertolongan
Semoga sholawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad , keluarga dan para sahabatnya.

Penerjemah

Tambahan dariku:

Kitab ini adalah kitab yang harus dibaca oleh seluruh umat Muslim. Karena kitab ini menjelaskan tentang ciri-ciri pokok tentang dasar umat Islam dalam beribadah. Setiap amalan ibadah tidak akan berguna di sisi Allah, apabila tidak didasari dengan Tauhid.

 

 

 

BAB 1
TAUHID
[ HAKEKAT DAN KEDUDUKANNYA ]

 

Firman Allah :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذريات:56)
“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah (1 ) kepada-Ku.” (QS. Adz –Dzariyat, 56 ).

)وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت(النحل: من الآية36)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “ Beribadalah kepada Allah ( saja ) dan jauhilah thoghut” (2 ) .” (QS. An – Nahl, 36

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al – Isra’, 23- 24).

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmua, yaitu “ Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka ; dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya ) melainkan dengan sesuatu ( sebab ) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami ( nya ). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa ( yang Kami perintahkan ) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan ( yang lain ), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” ( QS. Al – An’am, 151- 153).
Ibnu Mas’ud berkata : “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah : “Katakanlah ( Muhammad ) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepadaNya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain. (3 )

Mu’adz bin Jabal berkata :
كنت رديف النبي على حمار، فقال لي :” يا معاذ، أتدري ما حق الله على العباد، وما حق العباد على الله ؟ قلت : الله ورسوله أعلم، قال : حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا، قلت : يا رسول الله، أفلا أبشر الناس ؟ قال : ” لا تبشرهم فيتكلوا “.

“Aku pernah diboncengkan Nabi di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku : “ wahai muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya, dan apa hak hamba-hambaNya yang pasti dipenuhi oleh Allah ?, Aku menjawab : “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”, kemudian beliau bersabda : “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya ialah hendaknya mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya : ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang ?, beliau menjawab : “Jangan engkau lakukan itu, karena hawatir mereka nanti bersikap pasrah” ( HR. Bukhari, Muslim ).

_____________________________ _______

( 1 )Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah ta’ala dengan mentaati segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw. Dan inilah hakekat agama Islam, karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada Nya, dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.
Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridloi oleh Allah. Dan suatu amal akan diterima oleh Allah sebagai ibadah apabila diniati dengan ikhlas karena Allah semata ; dan mengikuti tuntunan Rasulullah saw.
( 2)Thoghut ialah : setiap yang diagungkan – selain Allah – dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi ; baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan.
Menjauhi thoghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.
( 3 )Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.

______________________________________________________________________________

 

Takut Kepada Allah

 

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila tubuh hamba menggigil karena takut kepada Allah SWT, dosa-dosanya berguguran seperti daun-daun yang berguguran dari pohon”.

Abû al-Layts r.a. berkata, “Allah memiliki para malaikat di langit ketujuh. Mereka bersujud sejak Allah menciptakan mereka hingga hari kiamat. Mereka menggigil ketakutan karena takut kepada Allah SWT Apabila hari kiamat tiba, mereka mengangkat kepala dan berkata, Mahasuci Engkau, kami menyembah-Mu dengan penyembahan yang sebenar-benarnya“.

Itulah firman Allah SWT: Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (QS. an-Nahl [16]: 50). Yakni, mereka tidak berbuat maksiat kepada Allah sekejap mata pun.

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila tubuh hamba menggigil karena takut kepada Allah SWT, dosa-dosanya berguguran seperti daun-daun yang berguguran dari pohon.” Dikisahkan bahwa seorang laki-laki tertambat hatinya kepada seorang perempuan. Perempuan itu keluar untuk suatu keperluan. Laki-laki itu ikut pergi bersamanya. Ketika mereka berduaan di padang sahara, sementara orang lain sudah tertidur, laki-laki itu mengungkapkan isi hatinya kepada perempuan tersebut: Perempuan itu berkata,”Lihatlah, semua orang sudah tertidur.”

Laki-laki itu senang mendengar kata-kata itu. Dia mengira bahwa perempuan itu telah memberikan jawaban kepadanya. Lalu, dia berdiri dan mengelilingi kafilah. Dia mendapati orang-orang sudah tertidur. Lalu, dia kembali kepada perempuan itu dan berkata, “Benar, mereka telah tidur.” Namun, perempuan itu bertanya, “Apa pendapatmu tentang Allah, apakah Dia tidur pada saat ini?” Laki-laki itu menjawab, “Allah SWT tidak tidur. Dia tidak pernah terserang kantuk dan tidur”. Perempuan itu berkata, “Zat yang tidak tidur dan tidak akan tidur selalu melihat kita walaupun orang lain tidak melihat kita. Karena itu, Allah lebih pantas untuk ditakuti.”

Akhirnya, laki-laki itu pun meninggalkan perempuan tadi karena takut kepada Sang Pencipta. Dia bertobat dan kembali ke kampung halamannya. Ketika dia meninggal, orang-orang bemimpi melihatnya. Ditanyakan kepadanya, “Apa tindakan Allah kepadamu?” Dia menjawab, “Dia mengampuniku karena ketakutanku itu. Dengan demikian, terhapuslah dosa tersebut.”

Dikisahkan bahwa di tengah Bani Israil ada seorang ahli ibadah yang memiliki keluarga. Lalu, dia tertimpa kelaparan sehingga badannya menggigil. Istrinya pergi untuk mencari makanan bagi keluarganya. Kemudian, dia sampai di rumah seorang saudagar itu makanan untuk keluarganya. Saudagar itu berkata, “Ya, tapi serahkanlah dirimu kepadaku.”

Perempuan itu terdiam dan kembali ke rumahnya. Dia perhatikan keluarganya yang sedang menjerit kelaparan dan berkata, “Ibu, kami akan mati karena kelaparan. Berikanlah sesuatu yang dapat kami makan.”

Perempuan itu pergi lagi ke rumah saudagar tadi dan mengabarkan keadaan keluarganya. Saudagar itu bertanya, “Maukah engkau memenuhi keperluanku?” Perempuan ltu menjawab, “Ya”.

Ketika mereka sedang berduaan, persendian si perempuan itu mengigil sehingga anggota-anggota tubuhnya hampir terlepas dari badannya. Melihat keadaan itu, sang saudagar bertanya, “Ada apa denganmu?” Perempuan itu menjawab, “Aku takut kepada Allah.” Saudagar itu berkata, “Engkau saja takut kepada Allah SWT dengan kemiskinanmu. Aku lebih pantas untuk takut kepada-Nya daripada dirimu.”

Karena itu, dia menjauhi perempuan itu dan memenuhi kebutuhanya. Lalu, perempuan itu pulang menemui anak-anaknya dengan membawa kenikmatan yang banyak. Anak-anaknya pun sangat bergembira. Allah mewahyukan kepada Musa a.s., “Sampaikan kepada fulan bin fulan bahwa Aku telah mengampuni dosa-dosanya.”

Lalu, Musa a.s. menemui saudagar itu dan berkata, “Tampaknya engkau telah mengerjakan kebajikan diantara dirimu dan Allah.” Kemudian, saudagar itu menceritakan kisahnya. Musa a.s. berkata, “Allah SWT Telah mengampuni dosa-dosamu.” Demikianlah disebutkan di dalam Majma’ al-Lathâif.

Diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Allah SWT, berfirman, Pada hamba-Ku tidak berkumpul dua ketakutan dan dua rasa aman. Barangsiapa yang takut kepada-Ku di dunia, Aku akan memberikan keamanan kepadanya di akhirat. Sebaliknya, barangsiapa yang merasa aman kepada-Ku di dunia, Aku akan memberikan rasa takut kepadanya pada hari kiamat.

Tentang hal itu, Allah SWT Berfirman; “Karena itu, janganlah kamu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku“. (QS al-Mâ’idah [5]: 44).
Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, melainkan takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman“. (QS. Ali ‘Imrân [3]: 175).

‘Umar r.a. pernah jatuh pingsan karena takut ketika mendengar bacaan suatu ayat al-Qur’an. Pada suatu hari, dia mengambil sebatang jerami, lalu berkata, “Aduhai, alangkah baiknya jika aku menjadi jerami dan tidak menjadi sesuatu yang disebut. Aduhai, alangkah baiknya jika dulu ibuku tidak melahirkanku.” Dia menangis terisak-isak sehingga air mata membasahi pipinya. Oleh karena itu, pada wajahnya ada garis bekas tetesan air mata.

Nabi SAW bersabda, “Tidak masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu kembali pada tetek.”

Dalam Raqâ’id al-Akhbâr disebutkan: Hari kiamat didatangkan kepada hamba maka kejelekan-kejelekannya lebih banyak daripada kebaikan-kebaikannya. Lalu, dia diperintahkan ke neraka. Bulu matanya berkata, “Wahai Tuhanku, Rasul-Mu Muhammad SAW telah bersabda, Barangsiapa yang menangis karena takut kepada Allah, Dia mengharamkannya pada api neraka. Lalu, aku menangis karena takut kepada-Mu.” Karena itu, Allah mengampuni dan mengeluarkannya dari neraka dengan berkah sehelai bulu matanya yang ketika di dunia pernah menangis karena takut kepada Allah SWT. Jibril a.s. berseru, “Fulan bin fulan selamat karena sehelai bulu mata”.

Dalam Bidâyah al-Hidâyah disebutkan: Pada hari kiamat, didatangkan Neraka Jahanam yang nyalanya bergemuruh, dan setiap umat berlutut karena takut kepadanya. Sebagaimana hal itu difirmankan Allah SWT. Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya (QS. al-Jatsiyah [45]: 28).

Ketika mendatangi neraka, mereka mendengar suara didih dan nyalanya. Gemuruh nyalanya terdengar hingga jarak perjalanan lima ratus tahun. Setiap para nabi berkata, “Diriku, diriku,” kecuali Rasullullah SAW. Beliau berkata, “Umatku, umatku.” Dari Neraka Jahim itu keluar api sebesar gunung. Umat Muhammad SAW berusaha mendorongnya. Mereka berkata, “Wahai api, demi hak orang-orang yang menegakkan shalat, yang bersedekah, yang khusyu’ dan yang puasa, kembalilah.” Namun, api itu tidak mati kembali maka dipanggillah Jibril a.s. Kemudian Jibril datang dengan membawa segelas air, lalu diberikan kepada Rasulullah SAW. Jibril berkata, “Wahai Rasulullah, ambillah ini, lalu siramkan pada api itu.” Kemudian, beliau menyiramkannya pada api sehingga ketika itu pula api itu padam.

Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Ini air apa?” Jibril a.s. menjawab, “Ini adalah air mata orang-orang yang durhaka diantara umatmu. Mereka menangis karena takut kepada Allah SWT. Lalu, aku diperintahkan untuk memberikannya kepadamu agar disiramkan pada api itu, sehingga api itu menjadi padam dengan izin Allah SWT” Rasulullah SAW Berdoa, “Ya Allah, anugerahilah aku dengan dua mata itu tidak menjadi seperti yang digambarkan penyair:

Mengapa mataku tak menangis
karena dosa-dosaku,
Umurku lepas dan tanganku
tetapi aku tak tahu.”

Dikisahkan dari Muhammad bin al-Mundzir r.a. bahwa ketika dia menangis, wajah dan janggutnya dibasahi air mata. Dia berkata, “Telah sampai kabar kepadaku bahwa api neraka tidak akan membakar tempat-tempat yang pernah dibasahi air mata.”

Karena itu, hendaklah orang Mukmin takut akan azab Allah dan menjauhkan diri dari hawa nafsu. Allah SWT berfirman: “Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya”. (QS an-Nazi’at [79]: 37 dan 41).

Barangsiapa yang ingin selamat dari azab Allah dan memperoleh pahala dan rahmat-Nya, hendaklah dia bersabar atas kesengsaraan dunia dan ketaatan kepada Allah, serta menjauhi kemaksiatan.

Dalam Zahr al-Riyâdh terdapat hadits yang diriwayatkan dari Nabi SAW. Beliau bersabda, “Apabila para penghuni surga masuk ke dalam surga, para malaikat menemui mereka dengan segala kebaikan dan kenikmatan. Para malaikat itu menempatkan mimbar-mimbar untuk mereka. Diberikan kepada mereka berbagai macam makanan dan buah-buahan. Terhadap kenikmatan ini, mereka keheranan; Allah bertanya, “Wahai hamba-hamba-Ku, mengapa kalian tampak keheranan? Ini bukan tempat untuk merasa heran.” Mereka menjawab, “Sesuatu yang dijanjikan kepada kami telah tiba waktunya.” Allah SWT berfirman kepada para malaikat, “Angkatlah hijab dari wajah mereka.” Namun, para malaikat bertanya, “Wahai Tuhan kami, bagaimana mereka akan melihat-Mu, bukankah dulu mereka adalah orang-orang yang durhaka?”. Allah SWT menjawab, “Angkatlah hijab, karena mereka adalah orang-orang yang selalu berzikir, bersujud, dan menangis di dunia karena ingin sekali-bertemu dengan-Ku.”

Lalu, hijab itu diangkat. Mereka memandang Allah, lalu menjatuhkan diri untuk bersujud kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah berfirman kepada mereka, “Angkatlah kepala kalian. Ini bukan tempat untuk beramal, melainkan tempat kemuliaan.”

Allah menampakkan diri kepada mereka tanpa diketahui bagaimana penampakan diri-Nya, dan dengan rasa bahagia berkata kepada mereka, “Salam sejahtera bagi kamu sekalian, wahai hamba-hamba-Ku. Aku telah ridla kepada kalian. Apakah kalian ridla kepada-Ku?” Mereka serentak menjawab, “Wahai Tuhan kami, bagaimana kami tidak ridla, padahal Engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang tidak terlihat mata, tidak terdengar telinga, dan tidak terpikirkan kalbu manusia.”

Inilah makna firman Allah SWT: “Allah ridla terhadap mereka dan mereka pun ridla terhadap-Nya”. (QS Ali ‘Imrân [3]: 119). (Kepada mereka dikatakan), “Salam,” sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang (QS Yâsîn [36]: 58). 

 

Taat Dan Cinta Kepada Allah Dan Rasul-Nya

 

Seorang hamba yang mengetahui bahwa kesempurnaan yang hakiki tiada lain kecuali milik Allah dan setiap yang tampak sempurna dari dirinya atau orang lain adalah dari dan karena Allah, maka hal itu akan menuntut keinginan menaati-Nya dan mencintai segala yang mendekatkan diri kepada-Nya. 

Allah SWT berfirman, Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu” (QS Ali ‘Imran [3]: 31).

Ketahuilah, wahai yang dikasihi Allah, bahwa kecintaan hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan dan kepatuhan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Adapun kecintaan Allah kepada hamba-Nya adalah limpahan ampunan-Nya kepadanya.

Ada yang mengatakan, apabila hamba mengetahui bahwa kesempurnaan yang hakiki tiada lain kecuali milik Allah dan setiap yang tampak sempurna dari dirinya atau orang lain adalah dari dan karena Allah, cintanya hanya milik dan kepada Allah. Hal itu menuntut keinginan mentaati-Nya dan mencintai segala yang mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, mahabbah ditafsirkan sebagai keinginan untuk taat dan kelaziman mengikuti Rasulullah SAW dalam peribadatannya. Hal itu merupakan dorongan menuju ketaatan kepada-Nya.

Al-Hasan r.a. berkata, “Beberapa kaum berjanji di hadapan Rasulullah SAW, ‘Wahai Rasulullah, sungguh kami mencintai Tuhan kami.’ Maka turunlah ayat di atas.”

Basyar al-Hâfî berkata, “Aku bermimpi bertemu dengan Nabi SAW. Beliau bertanya, ‘Wahai Basyar, tahukah engkau, dengan apa Allah meninggikanmu diantara kawan-kawanmu?’ “Tidak, wahai Rasulullah,” jawabku. Beliau bersabda, ‘Dengan baktimu kepada orang-orang saleh, nasihatmu kepada saudara-saudaramu, kecintaanmu kepada sahabat-sahabatmu dan pengikut Sunnahku, dan kepatuhanmu kepada Sunnahku.’ Selanjutnya Nabi SAW bersabda, ‘Barangsiapa yang menghidupkan Sunnahku, dia telah mencintaiku. Dan, barangsiapa yang mencintaiku, pada hari kiamat dia bersamaku di surga.'”

Di dalam hadits masyhur disebutkan bahwa orang yang berpegang pada Sunnah Rasulullah SAW ketika orang lain berbuat kerusakan dan terjadi pertikaian diantara para penganut mazhab, dia memperoleh pahala dengan seratus pahala syuhada. Demikian disebutkan dalam Syir’ah al-Islam.

Nabi SAW bersabda, “Semua umatku masuk surga kecuali orang yang tidak menginginkannya.” “Para sahabat bertanya, “Siapa yang tidak menginginkannya?” Beliau menjawab, “Orang yang mentaatiku masuk surga, sedangkan orang yang durhaka kepada-ku tidak menginginkan masuk surga. Setiap amalan yang tidak berdasarkan Sunnahku adalah kemaksiatan.”

Seorang ulama sufi berkata, “Kalau Anda melihat seorang guru sufi terbang di udara, berjalan di atas laut atau memakan api, dan sebagainya, sementara dia meninggalkan perbuatan fardlu atau sunnah secara sengaja, ketahuilah bahwa dia berdusta dalam pengakuannya. Perbuatannya bukanlah karamah. Kami berlindung kepada Allah dari yang demikian.”

Al-Junayd r.a. berkata, “Seseorang tidak akan sampai kepada Allah kecuali melalui Allah. Jalan untuk sampai kepada Allah adalah mengikuti al-Mushthafa SAW”.

Ahmad al-Hawari r.a. berkata, “Setiap perbuatan tanpa mengikuti Sunnah adalah batil. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Barangsiapa yang mengabaikan Sunnahku, haram baginya syafaatku.” Demikian disebutkan dalam Syir’ah al-Islam.

Ada seorang gila yang tidak meremehkan dirinya. Kemudian, hal itu diberitahukan kepada Ma’ruf al-Karkhi. Dia tersenyum, lalu berkata, “Wahai saudaraku, Allah memiliki para pencinta dari anak-anak, orang dewasa, orang berakal, dan orang gila. Yang ini adalah yang engkau lihat pada orang gila.”

Al-Junayd berkata, “Guruku al-Sari r.a. jatuh sakit. Kami tidak tahu obat untuk menyembuhkan penyakitnya dan juga tidak tahu sebab sakitnya. Dokter yang berpengalaman memberikan resep kepada kami. Oleh karena itu, kami menampung air seninya ke dalam sebuah botol. Lalu, dokter itu melihat dan mengamatinya dengan saksama. Kemudian dia berkata, Aku melihat air seni ini seperti air seni seorang pencinta (‘âsyiq). ‘Aku seperti disambar petir dan jatuh pingsan. Botol itu pun jatuh dari tanganku. Kemudian, aku kembali kepada al-Sari dan mengabarkan hal itu kepadanya. Dia tersenyum dan berkata, ‘Allah mematikan apa yang dia lihat.’ Aku bertanya, ‘Wahai guru, apakah mahabbah itu tampak jelas dalam air seni?’ Dia menjawab, ‘Benar.’

Al-Fudhayl r.a. berkata, “Apabila ditanyakan kepadamu, apakah engkau mencintai Allah, diamlah. Sebab, jika engkau menjawab ‘tidak’, engkau menjadi kafir. Sebaliknya, jika engkau menjawab ‘ya’, berarti sifatmu bukan sifat para pencinta Allah maka waspadalah dalam mencintai dan membenci (sesuatu).”

Sufyân berkata, “Barangsiapa mencintai orang yang mencintai Allah SWT, berarti dia mencintai Allah. Barangsiapa memuliakan orang yang memuliakan Allah SWT, berarti dia memuliakan Allah SWT.” Sahl berkata, “Tanda kecintaan kepada Allah adalah kecintaan kepada al-Qur’an. Tanda kecintaan kepada Allah dan al-Qur’an adalah kecintaan kepada Nabi SAW. Tanda kecintaan kepada Nabi SAW. adalah kecintaan kepada Sunnahnya. Tanda kecintaan kepada Sunnahnya adalah kecintaan kepada akhirat. Tanda kecintaan kepada akhirat adalah membenci keduniaan. Tanda kebencian kepada keduniaan adalah tidak mengambilnya kecuali sebagai bekal dan perantara menuju akhirat.”

Abu al-Hasan al-Zanjânî berkata, “Pokok ibadah itu adalah tiga anggota badan, yaitu telinga, hati, dan lidah. Telinga untuk mengambil pelajaran, hati untuk bertafakur, sedangkan lidah untuk berkata benar, bertasbih, dan berzikir. Sebagaimana Allah SWT berfirman, “Berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang“. (QS. al-Ahzab [33]: 41-42).

Abdullah dan Ahmad bin Harb berada di suatu tempat. Lalu, Ahmad bin Harb memotong sehelai daun rumput. Kemudian, Abdullah berkata kepadanya, “Engkau mengambil lima hal yang melalaikan kalbumu dari bertasbih kepada Maulamu. Engkau membiasakan dirimu sibuk dengan selain zikir kepada Allah SWT. Engkau jadikan hal itu sebagai jalan yang diikuti orang lain, dan engkau mencegahnya dari bertasbih kepada Tuhannya. Engkau bebankan kepada dirimu hujjah Allah ‘Azza wa jalla pada hari kiamat.” Demikian dikutip dari Rawnaq al-Majâlis.

Al-Sari r.a. berkata, “Aku bersama al-Jurjânî melihat tepung. Lalu, al-Jurjânî menelannya. Aku tanyakan hal itu kepadanya, ‘Mengapa engkau tidak memakan makanan yang lain?’ Dia menjawab, ‘Aku hitung di antara mengunyah dan menelan itu ada tujuh puluh kali tasbih. Karena itu, aku tidak pernah lagi memakan roti sejak empat puluh tahun yang lalu.

Sahl bin Abdullah makan setiap lima belas hari sekali. Ketika memasuki bulan Ramadlan, dia tidak makan kecuali sekali saja. Sekali-sekali dia menahan lapar hingga tujuh puluh hari. Apabila makan, badannya menjadi lemah. Namun jika lapar, badannya menjadi kuat. Dia beriktikaf di Masjidil Haram selama tiga puluh tahun tanpa terlihat makan dan minum. Dia tidak melewatkan sesaat pun dari berzikir kepada Allah.

‘Umar bin ‘Ubayd tidak pernah keluar dari rumahnya kecuali karena tiga hal, yaitu shalat berjamaah, menjenguk orang sakit, dan melayat orang yang meninggal. Dia berkata, “Aku melihat orang-orang mencuri dan merampok. Umur adalah mutiara indah yang tidak ternilai maka hendaklah umur itu disimpan dalam lemari yang abadi di akhirat.

Ketahuilah bahwa pencari akhirat harus melakukan kezuhudan dalam kehidupan dunia agar cita-citanya hanya satu dan batinnya tidak terpisah dari lahirnya. Tidak mungkin menjaga keadaan itu kecuali dengan penguasaan lahir dan batin.”

Ibrahim bin al-Hakim berkata, “Apabila hendak tidur, bapakku sering menceburkan diri ke laut, lalu bertasbih. Ikan-ikan hiu pun berkumpul dan ikut bertasbih bersamanya.”

Wahab bin Munabbih berdoa kepada Allah agar dihilangkan rasa kantuk pada malam hari. Karena itu, dia tidak pernah tidur selama empat puluh tahun. Hasan al-Hallaj mengikat kakinya dari mata kaki hingga lutut dengan tiga belas ikatan. Dia menunaikan shalat dalam keadaan seperti itu sebanyak seribu rakaat dalam sehari semalam.

AI-Junayd pernah pergi ke pasar dan membuka tokonya. Dia masuk, menurunkan tirai, menunaikan shalat empat ratus rakaat, kemudian pulang. Selama empat puluh tahun Habsyi’ bin Dawud menunaikan shalat dluha dengan wudlu untuk shalat ‘isya maka hendaklah orang-orang Mukmin selalu dalam keadaan suci. Setiap kali berhadas, bersegeralah bersuci, shalat dua rakaat, dan berusaha menghadap kiblat dalam setiap duduknya. Hendaklah dia membayangkan bahwa dirinya sedang duduk di hadapan Nabi SAW, menurut kadar kehadiran dan pengawasan batinnya. Dengan demikian, dia terbiasa tenang dalam segala perbuatan. Dia rela menanggung penderitaan, tidak melakukan sesuatu yang menyakiti (orang lain), dan memohon ampunan dari setiap hal yang menyakitkan. Dia tidak membanggakan diri dan perbuatannya, karena bangga diri (‘ujb) termasuk sifat-sifat setan. Pandanglah diri dengan mata kehinaan dan pandanglah orang-orang saleh dengan mata kemuliaan dan keagungan. Barangsiapa yang tidak mengenal kemuliaan orang-orang saleh, Allah mengharamkannya bergaul dengan mereka. Dan barangsiapa yang tidak mengenal mulianya ketaatan, dicabutlah manisnya ketaatan itu dari kalbunya.

Al-Fudhayl bin ‘Iyadh ditanya, “Wahai Abu’ Al-Fudhayl, kapan seseorang bisa dikatakan orang saleh?” Dia menjawab, “Apabila ada kesetiaan dalam niatnya, ada ketakutan dalam kalbunya, ada kebenaran pada lidahnya, dan ada amal saleh pada anggota tubuhnya.”

Allah Swt. berfirman ketika Nabi Saw. melakukan mikraj, “Wahai Ahmad, jika engkau ingin menjadi orang yang paling wara, berlaku zuhudlah di dunia dan cintailah akhirat, “Nabi Saw. bertanya, “Wahai Tuhanku, bagaimana cara aku berlaku zuhud di dunia?” Allah menjawab, ” Ambillah dari keduniaan itu sekadar memenuhi keperluan makan, minum, dan pakaian. Janganlah menyimpannya untuk hari esok dan biasakanlah berzikir kepada-Ku.” Nabi SAW bertanya lagi, “Wahai Tuhanku, bagaimana cara aku membiasakan berzikir kepada-Mu?” Allah menjawab, “Dengan mengasingkan diri dari manusia. Gantilah tidurmu dengan shalat dan makanmu dengan lapar.”

Nabi SAW bersabda, “Kezuhudan di dunia dapat menenangkan hati dan badan. Kecintaan kepadanya dapat memperbanyak tekad kuat dan kesedihan. Kecintaan kepada keduniaan merupakan induk setiap kesalahan, dan kezuhudan dari keduniaan merupakan induk setiap kebaikan dan ketaatan.”

Seorang saleh melewati sekelompok orang. Tiba-tiba dia mendengar seorang dokter sedang menerangkan tentang penyakit dan obat-obatan. Dia bertanya, “Wahai penyembuh penyakit tubuh, dapatkah engkau mengobati penyakit hati?” Dokter itu menjawab, “Ya, sebutkan penyakitnya.” Orang saleh itu berkata, “Dosa telah menghitamkannya sehingga menjadi keras dan kering. Apakah engkau dapat mengobatinya?” Dokter menjawab, “Obatnya adalah ketundukan, permohonan yang sungguh-sungguh, istigfar di tengah malam dan siang hari, bersegera menuju ketaatan kepada Zat Yang Mahamulia dan Maha Pemberi ampunan, dan permohonan maaf kepada Raja Yang Mahakuasa. Inilah obat penyakit hati dan penyembuhan dari Zat Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” Lalu, orang saleh itu menjerit dan berlalu sambil menangis. Dia berkata, “Dokter yang baik, engkau telah mengobati penyakit hatiku.” Dokter itu berkata, “Ini adalah penyembuhan penyakit hati orang yang bertaubat dan mengembalikan kalbunya kepada Zat Yang Mahabenar dan Maha Menerima taubat”.

Dikisahkan bahwa seseorang membeli seorang budak. Lalu budak itu berkata, “Wahai tuanku, aku ingin mengajukan tiga syarat kepada Anda. Pertama, Anda tidak menghalangiku untuk menunaikan shalat wajib apabila tiba waktunya. Kedua, Anda boleh memerintahku sesuka Anda pada siang hari, namun tidak menyuruhku pada malam hari. Ketiga, Anda memberikan kepadaku sebuah kamar di rumah Anda yang tidak boleh dimasuki orang lain.” Pembeli budak itu berkata, “Aku akan memenuhi syarat-syarat itu.”

Selanjutnya dia berkata, “Lihatlah kamar-kamar itu.” Budak itu pun berkeliling dan menemukan sebuah kamar yang sudah rusak, lalu berkata, “Aku mengambil kamar ini.” Pembeli budak itu bertanya, “Wahai budak, mengapa engkau memilih kamar yang rusak?” Budak itu menjawab, “Wahai tuanku, tidakkah Anda tahu bahwa yang rusak itu di sisi Allah merupakan taman.”

Budak itu melayani tuannya pada siang dan malamnya dia beribadah kepada Tuhannya. Hingga pada suatu malam, tuannya berkeliling di sekitar rumahnya, lalu sampai dikamar budak itu. Tiba-tiba dia melihat kamar itu bercahaya, sementara budak itu sedang bersujud dan di atas kepalanya ada pelita dari cahaya yang tergantung di antara langit dan bumi. Budak itu bermunajat dan merendahkan diri (kepada Allah): Dia berdoa, “Ya Allah, aku memenuhi hak tuanku dan melayaninya pada siang hari. Kalau tidak begitu, niscaya aku tidak akan melewatkan siang dan malamku selain untuk berkhidmat kepada-Mu maka ampunilah aku, wahai Tuhanku.”

Tuannya menyaksikan hal itu hingga tiba waktu subuh. Pelita itu menghilang dan atap kamar itu pun menutup kembali. Lalu, dia kembali dan memberitahukan hal itu kepada istrinya. Ketika malam kedua tiba, dia mengajak istrinya dan mendatangi pintu kamar itu. Tiba-tiba mereka menemukan budak itu sedang bersujud dan ada pelita di atas kepalanya. Mereka pun berdiri di depan pintu kamar sambil memandangi budak itu dan menangis hingga tiba waktu subuh. Lalu, mereka memanggil budak itu dan berkata, “Engkau aku merdekakan karena Allah SWT sehingga engkau dapat mengisi siang dan malammu dengan beribadah kepada Zat yang engkau mohonkan maaf-Nya.”

Kemudian, budak itu menadahkan tangannya ke langit dan berkata,

Wahai Pemilik segala rahasia
kini rahasia itu telah tampak
hidup ini tak lagi kuinginkan
setelah rahasia itu tersebar.

Lalu dia berdoa, “Ya Allah, aku memohon kematian kepada-Mu.” Budak itu pun tersungkur dan lalu meninggal. Demikianlah keadaan orang-orang saleh, serta para pencinta dan pendamba.

Dalam Zahr al-Riyadh disebutkan bahwa Musa a.s. punya seorang karib yang sangat dekat. Pada suatu hari, karibnya berkata, “Wahai Musa, berdoalah kepada Allah agar aku dapat mengenal-Nya dengan makrifat yang sebenar-benarnya.”

Musa a.s. berdoa, dan doanya dikabulkan. Kemudian, karibnya pergi ke puncak gunung bersama binatang-binatang buas. Musa pun kehilangan dia maka Musa berdoa, “Wahai Tuhanku, aku kehilangan saudara dan karibku.” Tiba-tiba ada jawaban, “Wahai Musa, orang yang mengenal-Ku dengan makrifat yang sebenar-benarnya tidak bergaul dengan makhluk untuk selama-lamanya.”

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Yahya a.s. dan Isa a.s. sedang berjalan di pasar. Tiba-tiba seorang perempuan menabrak mereka. Yahya a.s. berkata, “Demi Allah, aku tidak merasakannya.”

Lalu Isa a.s. bertanya, “Mahasuci Allah, badanmu ada bersamaku. tetapi kalbumu ada di mana!” Yahya a.s. menjawab, “Wahai anak bibiku, kalau kalbu merasa tenteram kepada selain Allah sekejap mata pun, niscaya engkau mengira aku tidak mengenal Allah.”

Seorang ulama berkata, “Makrifat yang benar adalah menceraikan dunia dan akhirat, dan menyendiri untuk Maula. Dia mabuk karena tegukan mahabbah. Karena itu, dia tidak sadar kecuali ketika melihat Allah. Dia berada di atas cahaya dari Tuhannya.”

 

Allah SWT, Maha Tahu Atas Objek Yang Diketahui

 

Alam tidak bisa lepas dari dua alternatif, pertama alam ada penciptanya, dan alam tidak ada penciptanya. Kalau alam ada penciptanya tentu Sang Pencipta tidak bisa terlepas dari dua alternatif, salah satunya bahwa Dia mesti tahu tentang Apa yang Dia ciptakan.  

Orang-orang yang meyakini tentang Sang Pencipta telah bersepakat, bahwa Allah SWT adalah Mahatahu . Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang apa yang diketahui-Nya. Apakah Ilmu-Nya akan menambah-Nya ataukah tidak? Kesepakatan untuk menetapkan tentang Ilmu Allah sudah cukup, lalu kami ingin menambahkan keterangan, bahwa alam tidak bisa lepas dari dua alternatif: pertama, alam ada Penciptanya atau alternatif kedua, bahwa alam tidak ada Penciptanya. Kalau alam ini tidak ada Penciptanya, tentu apa yang telah kami sampaikan di muka tidak benar. Sementara kalau ada Penciptanya, tentu Sang Pencipta tersebut tidak bisa lepas dari dua altematif: Dia menciptakan, dan tahu atau tidak terhadap apa yang Dia ciptakan. Kalau dikatakan, bahwa Dia menciptakannya dan tidak tahu tentang apa yang Dia ciptakan, karena Dia terpaksa atau bodoh, tentu pernyataan demikian adalah tidak benar, sebab hal itu mustahil, sebagaimana yang telah kami jelaskan. Dengan demikian tinggal satu alternatif, yakni Dia mesti tahu tentang apa yang Dia ciptakan. Kalau dikatakan Dia Mahatahu , hanya saja Dia tahu secara global (totalitas) dan bukan secara parsial. Sebab kalau secara parsial akan mengakibatkan Ilmu-Nya huduts, akibat Dia harus mengetahui apa yang baru terjadi. Akan tetapi hal itu tidak benar, sebab huduts tidaklah berbeda-beda. Kalau pernyataan itu benar, tentu kalau ada sesuatu yang sangat kecil terwujud tanpa sepengetahuan-Nya tentu bisa saja terjadinya langit tanpa sepengetahuan-Nya juga.

Kalau dikatakan, “Kami bisa menerima, bahwa Sang Pencipta tidak akan menciptakan sesuatu kalau Dia tidak tahu tentang apa yang Dia ciptakan tersebut. Akan tetapi para malaikat yang diserahi tugas untuk mengurus hal tersebut mengetahui obyek yang diketahui secara mandiri. Dan inilah tingkat kemiripan sifat-sifat mereka dengan Sang Pencipta.”

Kami jawab, bahwa hal itu sangat mustahil, sebab Sang Pencipta SWT menurut Anda hanyalah akal murni. Sementara akal murni yang bersih dari materi disyaratkan harus tidak bodoh terhadap obyek yang diketahui. Kebodohan yang terjadi pada manusia itu, karena ia dalam materi, sehingga karena disibukkan oleh suatu materi, ia pun tidak akan tahu terhadap yang lain.

Anda telah tahu, bahwa langit -menurut pendapat Anda – tahu tentang apa yang dapat diketahui secara parsial, lalu mengapa Anda tidak mengharuskan hal itu untuk Allah SWT sebagaimana menetapkannya untuk langit? Kalau mereka menjawab, “Karena hal itu akan mengakibatkan terjadinya sesuatu yang baru (huduts) pada Dzat Allah.” Maka dari jawaban tersebut, kami dapat meluruskan, “Tidak harus demikian, sebab IImu-Nya adalah Qadim (Mahadahulu tanpa awal) .Dia mengetahui apa yang bakal terjadi dari berbagai formulasi dan transformasi alam sampai titik terakhir. Dan atas dalil Anda, dari sisi mengetahui berbagai sebab yang pertama tentu akan mengetahui sebab-sebab berikutnya dan seterusnya, karena orang yang tahu, tentu ia tahu apa penyebabnya. Sedangkan segala sesuatu yang terjadi tentu ada sebab musababnya, demikian seterusnya hingga titik akhir dari suatu rangkaian. Lalu sifat baru (huduts) dan perubahan (taghayyur) itu terjadi terhadap semua makhluk (hawadits). Sementara hal itu akan berlangsung sesuai dengan IImu-Nya, sehingga IImu-Nya adalah satu dan tidak berubah. Sedangkan perubahan yang terjadi itu hanya dari sisi, bahwa Dia tahu tentang perubahan tersebut, dan itu terjadi secara sistematis.”

Kalau ada pertanyaan, “Apakah IImu-Nya akan menambah pada Dzat-Nya, ataukah IImu itu sendiri juga Dzat?”

Kami jawab, “Kelompok Mu’tazilah memang berpendapat, bahwa Dzat-Nya adalah IImu itu sendiri. Sementara kelompok Asy’ariyyah dan sebagian besar kelompok-kelompok yang lain berpendapat, bahwa IImu-Nya bukanlah Dzat-Nya. Sementara yang saya yakini adalah, bahwa Allah SWT Mahatahu, sedangkan dalil yang membuktikan Kemahatahuan-Nya sudah kami kemukakan sebelumnya Ini merupakan mukadimah dari mukadimah kedua Kalau sudah ditetapkan, bahwa Ilmu-Nya akan mengubah Dzat-Nya adalah mustahil, maka dengan demikian kita akan mengatakan, bahwa Ilmu itu tidak bisa lepas dari dua kemungkinan Ilmu-Nya adalah Dzat itu sendiri -sementara saya tidak berkeyakinan- seperti ini. Atau kemungkinan kedua, bahwa ilmu itu tambahan dari Dzat Dan inilah aliran (madzhab) yang Anda ikuti.

Kalau Ilmu-Nya itu tambahan dari Dzat, tentu tidak dapat lepas, dari tiga alternatif Ilmu itu lepas dan berdiri sendiri tanpa Dzat, atau Ilmu itu adalah sesuatu yang harus wujud (wajibul-wujud), atau Dzat itu menjadi syarat Ilmu. Kalau sekarang Ilmu itu lepas dari Dzat dan berdiri sendiri, dan itu merupakan sesuatu yang qadim, maka akan ada dua Tuhan, Yaitu Dzat dan Ilmu, sedangkan hal tersebut adalah mustahil.

Kalau ada pertanyaan, “Apakah Dzat merupakan persyaratan Ilmu?”

Maka kami jawab, “Kalau demikian, maka ia tidak bisa lepas dari dua kemungkinan. Ia sesuatu yang qadim atau ia sesuatu yang baru (huduts), Kalau ia qadim tentu tidak dapat dibenarkan bila sesuatu yang qadim menjadi syarat qadim yang lain. Kalau Ilmu itu sesuatu yang huduts, maka tidak bisa lepas dari dua altematif, ia berada pada Dzat Sang Pencipta atau pada yang lain Kalau Ilmu yang huduts berada pada Dzat Sang Pencipta, tentu pada Dzat-Nya terdapat sesuatu yang baru, dan ini tidak benar. Kalau Ilmu berada pada selain Dzat Sang Pencipta, berarti Ilmu itu bukan termasuk Sifat-sifat-Nya.”

Kalau ditanya, “Ini berarti sama dengan aqidah kelompok Mu’tazilah?”

Saya jawab, “Kami dapat membedakan antara aqidah mereka dengan aqidah yang kami yakini. Dimana kami berkeyakinan, bahwa Allah SWT Maha Mengetahui, baik secara global maupun parsial, dan tidak boleh dikatakan, bahwa Ilmu-Nya adalah Dzat-Nya itu sendiri dan lain sebagainya. Sebab ketentuan untuk memberikan Nama kepada Sang Pencipta secara mutlak adalah cara yang ditempuh oleh syari’at, dan tidak ada ketentuan syari’at yang menunjukkan, bahwa Ilmu-Nya adalah tambahan dan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. Akan tetapi hal itu disebutkan secara mutlak. Sementara banyak alasan rasional yang menunjukkan, bahwa Allah SWT itu Maha Mengetahui. Dan tidak dapat dibenarkan bila Ilmu-Nya wujud secara qadim dan berdiri sendiri, tidak butuh kepada Sang Pencipta SWT. Demikian pula tidak dapat dibenarkan, bila Ilmu itu qadim tapi butuh syarat.”

Allah SWT, Maha Berkehendak Atas Apa Yang Wujud

 

Kehendak Tuhan (al-Iradah al-Ilahiyah) adalah suatu ungkapan tentang ketetapan Allah terhadap suatu perbuatan dengan tidak akan melupakannya, maka tujuan dan maksud untuk mewujudkan itu disebut.  

Pada bagian ini, kita akan membicarakan masalah Kehendak (Iradah). Dimana masalah ini menjadi suatu polemik yang cukup serius. Karena masalah ini pula, sehingga terjadi kevakuman. Oleh karena itu, insya Allah kami ingin menjelaskan persoalan ini secara rinci.

Kehendak secara hakiki dan makna yang dapat dipahami adalah kesepakatan jiwa untuk melakukan perbuatan ketika terwujudnya kekuatan emosional. Lalu di dalam kekuatan imajinasi terdapat sesuatu yang menggerakkan untuk melakukan pekerjaan tersebut karena adanya sesuatu yang disenangi atau ditakuti. Akan tetapi definisi seperti ini mustahil bagi Dzat Sang Pencipta, Allah SWT Dengan demikian, Kehendak Tuhan (al-Iradah al-Ilahiyyah) adalah suatu ungkapan tentang ketetapan Allah terhadap suatu perbuatan dengan tidak akan melupakannya. Maka tujuan dan maksud untuk mewujudkan sesuatu itu disebut Kehendak. Dan pada hakikatnya hal itu bisa diartikan sebagai munculnya suatu perbuatan dari kekuatan, sehingga menjadi suatu perbuatan.

Sementara telah dibuktikan dengan dalil, bahwa Allah SWT Maha Mengetahui, Dia Yang menciptakan alam semesta, dan sudah kita kukuhkan, bahwa alam ini akan selalu butuh kepada-Nya. Hal itu juga telah kita sepakati, sekalipun mereka menyebutnya sebagai sebab (illat), tapi mereka telah menetapkan, bahwa alam tidak akan eksis tanpa Sang Pencipta. Dia juga Maha Mengetahui alam ini. Sedangkan Ilmu-Nya tentang hal-hal yang Dia ketahui, baik yang telah terjadi, sedang dan bakal terjadi adalah satu cara dan bentuk yang tidak akan berubah. Dia tidak akan bodoh dan juga tidak akan lupa.

Ilmu, bila dikaitkan dengan-Nya maka Ilmu itu sebelum pekerjaan dan juga setelahnya untuk selama-lamanya. Kemudian Ilmu bila dikaitkan dengan apa yang bakal terjadi dari sisi apa yang diketahui, maka obyek yang diketahui dibedakan menjadi apa yang telah dan bakal terjadi. Sementara yang bakal terjadi tetap berada dalam kekuatan, sedangkan yang sudah terjadi telah keluar menjadi suatu pekerjaan. Akhirnya yang berubah adalah kondisi obyek yang diketahui, dan bukan Ilmu-Nya.

Ini adalah kaidah yang cukup sempurna bila Anda memahami tingkatan ini. Apabila ditetapkan demikian, maka segala yang ada dalam “Kekuatan” Iradah-Nya adalah yang bakal terjadi. Maka Allah SWT adalah Maha Berkehendak untuk mewujudkan sesuatu, dari sisi, bahwa Dia-lah Yang mensistematisasi seluruh sebab yang berlaku sesuai dengan Ilmu-Nya. Oleh karena itu, segala sebab akan sesuai dengan apa yang telah Dia ketahui, sehingga kehendak secara mutlak dalam bahasan ini dapat diartikan, bahwa apa yang dikehendaki itu telah diketahui. Sementara sistem analogi akan menyatakan, bahwa segala yang dikehendaki itu sudah diketahui. Lalu segala yang diketahui akan berjalan sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, dan segala yang Dia kehendaki akan berjalan sesuai dengan Ilmu Allah SWT.

Apabila dibenarkan, bahwa Ilmu merupakan sebab dari yang Dia kehendaki di dalam “Kekuatan” Iradah-Nya, maka apa yang dilakukan akan mengikuti apa yang ada di dalam “Kekuatan”, sedangkan masalahnya sudah jelas. Sehingga apa yang keluar telah menjadi perbuatan, maka kejadian (perbuatan) itu menunjukkan adanya ketetapan Allah terhadap kejadian tersebut. Sedangkan ketetapan tersebut adalah yang dituntut dengan Kehendak yang mengikut pada Ilmu.

Kalau ada pertanyaan, “Lalu apakah yang diketahui itu terbatas atau tidak?”.

Kami jawab, “Pertanyaan ini butuh rincian terlebih dahulu. Maka si penanya harus menambahkan, bahwa yang terbatas adalah obyek yang diketahui. Maka suatu keharusan secara rasional, bahwa obyek yang diketahui itu dalam lingkup, sedangkan apa yang ada dalam suatu lingkup tentu terbatas, sementara yang terbatas tentu ada batas akhir. Dengan demikian obyek yang diketahui adalah berada dalam batas, baik obyek pengetahuan tersebut berada dalam Kekuatan Iradah atau sudah keluar menjadi pekerjaan. Dengan demikian, seluruh alam dalam lingkup lingkaran yang kesembilan dan seluruh yang ada di dalamnya, dari berbagai jenis, macam dan individu adalah terbatas dalam Ilmu Allah SWT”.

Kalau masih terus ditanya, “Ini dapat kita terima, akan tetapi sekarang pertanyaannya, apakah Sang Pencipta Maha Mengetahui tentang sesuatu yang tidak terbatas atau tidak?”.

Maka kita jawab, “Ini adalah pertanyaan yang mustahil, dilihat dari sisi tersebut, sebab seluruh obyek yang diketahui adalah terbatas, maka pertanyaan seperti ini sangat melenceng dari kebenaran”.

Kalau misalnya ditanya, “Apakah bisa dikatakan, ilmu layak membatasi terhadap apa yang tidak terbatas ataukah tidak?”.

Kami jawab, “Ilmu itu sendiri tidak dapat diterangkan dengan sifat seperti itu, kecuali bila dikaitkan dengan obyek yang diketahui. Kalau tidak, maka ciri khusus yang dimiliki oleh Ilmu itu tidak benar, tapi kalau dikaitkan dengan obyek yang diketahui, maka obyek tersebut akan terbatas. Dengan demikian, hanya dapat dikatakan satu cara, bahwa Ilmu itu qadim yang berkaitan, bahwa alam-alam saling berurutan, sehingga kalau dikaitkan dengan alam itu sendiri akan terbatas. Akan tetapi apabila keterbatasan itu dikaitkan dengan Ilmu Allah yang Qadim tentu tidak benar, sebab Ilmu-Nya itu tidak dapat dikatakan terbatas atau tidak terbatas. Ini merupakan sumber kesalahan. Dan barangkali bagi orang yang tidak memahami hakikat masalah akan mengira, kalau obyek yang diketahui itu terbatas, tentu Ilmu Allah juga terbatas. Jauh sekali mereka mampu memahami hakikat sebenarnya. Sementara yang dapat dikatakan terbatas adalah obyek yang diketahui, dilihat dari sisi ia dapat dibatasi, sehingga sebagian besar para ahli ilmu kalam berpendapat, bahwa cara itu tidak dapat dikatakan terbatas atau tidak. Lalu bagaimana dengan Ilmu Sang Maha Pencipta SWT?.

Sebab Ilmu Allah bukan dari sisi sifat baru (‘aradl) atau jauhar. Maka bagaimanapun persoalannya, istilah terbatas atau tidak adalah bila dikaitkan dengan obyek yang diketahui dan tidak dikaitkan dengan Ilmu. Hal itu tidak mengurangi Kekuasaan Allah, dan juga tidak dapat dikatakan bahwa Dia tidak kuasa”.

 

 

Iman Kepada Allah (Tauhid dan Tanzih)

 

1. Dalil-Dalil Tentang Iman Kepada Allah

Firman Allah SWT:

Wahai orang yang beriman; berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya (Muhammad SAW), kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Barangsiapa kafir (tidak beriman) kepada Allah, malaikat-Nya. kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan Hari Akhirat, maka sesungguhnya orang itu sangat jauh tersesat. QS. an-Nisaa’ (4): 136.

Dan Tuhan itu, Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. QS. al-Baqarah (2): 163.

Allah itu tunggal, tidak ada Tuhan selain Dia, yang hidup tidak berkehendak kepada selain-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya lah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Bukankah tidak ada orang yang memberikan syafaat di hadapan-Nya jika tidak dengan seizin-Nya? Ia mengetahui apa yang di hadapan manusia dan apa yang di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sedikit jua pun tentang ilmu-Nya, kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Pengetahuannya meliputi langit dan bumi. Memelihara kedua makhluk itu tidak berat bagi-Nya. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. QS. al-Baqarah (2): 255.

Dialah Allah, Tuhan Yang Tunggal, yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui perkara yang tersembunyi (gaib) dan yang terang Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak tidak ada Tuhan selain Dia, Raja Yang Maha Suci, yang sejahtera yang memelihara, yang Maha Kuasa. Yang Maha Mulia, Yang Jabbar,lagi yang Maha besar, maha Suci Allah dari segala sesuatu yang mereka perserikatkan dengannya. Dialah Allah yang menjadikan, yang menciptakan, yang memberi rupa, yang mempunyai nama-nama yang indah dan baik. Semua isi langit mengaku kesucian-Nya. Dialah Allah Yang Maha keras tuntutan-Nya, lagi Maha Bijaksana. QS. al-Hasyr (59): 22-24

Dalam Surat Al-Ikhlash, yang mempunyai arti:

“Katakanlah olehmu (hai Muhammad): Allah itu Maha Esa. Dialah tempat bergantung segala makhluk dan tempat memohon segala hajat. Dialah Allah, yang tiada beranak dan tidak diperanakkan dan tidak seorang pun atau sesuatu yang sebanding dengan Dia.” QS. al-Ikhlash (112): 1-4.

Sabda RasululIah SAW:

Katakanlah olehmu (wahai Sufyan, jika kamu benar-benar hendak memeluk Islam): Saya telah beriman akan Allah; kemudian berlaku luruslah kamu. (HR. Taisirul Wushul, 1: 18).

Manusia yang paling bahagia memperoleh syafaat-Ku di hari kiamat, ialah: orang yang mengucapkan kalimat La ilaha illallah. (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12).

Barangsiapa mati tidak memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk surga. Dan barangsiapa mati tengah memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk neraka. (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12.

 

 

 

2. Pengertian Iman Kepada Allah

Iman kepada Allah ialah:

1. Membenarkan dengan yakin akan adanya Allah;
2. Membenarkan dengan yakin akan keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya menciptakan alam makhluk seluruhnya, maupun dalam menerima ibadat segenap makhluk-Nya;
3. Membenarkan dengan yakin, bahwa Allah bersifat dengan segala sifat sempurna, suci dari segala sifat kekurangan dan suci pula dari menyerupai segala yang baharu (makhluk).

Demikianlah pengertian iman akan Allah, yang masing-masing diuraikan dalam pasal-pasal yang akan datang.

 

Makrifat

Perlu dijelaskan lebih dahulu, bahwa membenarkan dalam pengertian iman seperti yang tersebut di atas, ialah suatu pengakuan yang didasarkan kepada makrifat. Karena itu perlulah kiranya diketahui dahulu akan arti dan kedudukan makrifat itu.

Makrifat ialah: “Mengenal Allah Tuhan seru sekalian alam” untuk mengenal Allah, ialah dengan memperhatikan segala makhluk-Nya dan memperhatikan segala jenis kejadian dalam alam ini. Sesungguhnya segala yang diciptakan Allah, semuanya menunjukkan akan “adanya Allah”. memakrifati Allah, maka Dia telah menganugerahkan akal dan pikiran. Akal dan pikiran itu adalah alat yang penting untuk memakrifati Allah, Zat yang Maha Suci, Zat yang tiada bersekutu dan tiada yang serupa. Dengan memakrifati-Nya tumbuhlah keimanan dan keislaman. Makrifat itulah menumbuhkan cinta, takut dan harap. Menumbuhkan khudu’ dan khusyuk didalam jiwa manusia. Karena itulah makrifat dijadikan sebagai pangkal kewajiban seperti yang ditetapkan oleh para ahli ilmu Agama. Semuanya menetapkan: “Awwaluddini, ma’rifatullah permulaan agama, ialah mengenal Allah”. Dari kesimpulan inilah pengarang az-Zubad merangkumkan syairnya yang berbunyi:

Permulaan kewajiban manusia, ialah mengenal akan Allah dengan keyakinan yang teguh.

Dalam pada itu, harus pula diketahui, bahwa makrifat yang diwajibkan itu, ialah mengenali sifat-sifat-Nya dan nama-nama-Nya yang dikenal dengan al-Asmaul Husna (nama-nama yang indah lagi baik). Adapun mengetahui hakikat Zat-Nya, tidak dibenarkan, sebab akal pikiran tidak mampu mengetahui Zat Tuhan. Abul Baqa al-‘Ukbary dalam Kulliyiat-nya menulis: “ada dua martabat Islam: (l) di bawah iman, yaitu mengaku (mengikrarkan) dengan lisan, walaupun hati tidak mengakuinya; dan (2) di atas iman, yaitu mengaku dengan lidah mempercayai dengan hati, dan mengerjakan dengan anggota”.

Sebagian besar ulama Hanafiyah dan ahli hadits menetapkan bahwa iman dan Islam hanya satu. Akan tetapi Abul Hasan al-Asy’ari mengatakan: Iman dan Islam itu berlainan”.

Abu Manshur al-Maturidi berpendapat, bahwa: “Islam itu mengetahui dengan yakin akan adanya Allah, dengan tidak meng-kaifiyat-kan-Nya dengan sesuatu kaifiyat, dengan tidak menyerupakan-Nya dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya. Tempatnya yang tersebut ini, ialah dalam hati. Iman ialah mempercayai (mengetahui) akan ketuhanan-Nya dan tempatnya ialah di dalam dada (hati). Makrifat ialah mengetahui Allah dan akan segala sifat-Nya. Tempatnya ialah di dalam lubuk hati (fuad). Tauhid ialah mengetahui (meyakini) Allah dengan keesaan-Nya. Tempatnya ialah di dalam lubuk hati dan itulah yang dinamakan rahasia (sir).

Inilah empat ikatan, yakni: lslam, iman, makrifat, dan tauhid yang bukan satu dan bukan pula berlainan. Apabila keempat-empatnya bersatu, maka tegaklah Agama.

 

3. Cara Mengakui Ada-Nya Allah

Mengakui ada-Nya Allah, ialah: “Mengakui bahwa alam ini mempunyai Tuhan yang wajib wujud (ada-Nya), yang qadim azali, yang baqi (kekal), yang tidak serupa dengan segala yang baharu. Dialah yang menjadikan alam semesta dan tidaklah sekali-kali alam ini terjadi dengan sendirinya tanpa diciptakan oleh yang wajib wujud-Nya itu”.

Demikianlah ringkasan cara mengetahui akan ada-Nya Allah, Sang Maha Pencipta dan Maha Pengendali alam yang sangat luas dan beraneka ragam ini.

 

4. Cara Menetapkan Ada-Nya Allah

Agama Islam menetapkan ada-Nya Tuhan (Wujudullah) dengan alasan yang jitu dan tepat, yang tidak dapat dibantah dan disanggah; karena alasan yang dikemukakan oleh Agama Islam (al-Qur’an) adalah nyata, logis (manthiqy) dan ilmiah.

Dalailul Wujud atau Dalailut Tauhid ini dibahas dalam kitab-kitab ilmu kalam, karenanya baiklah kita tinjau lebih dahulu keadaan perkembangan ilmu kalam itu.

 

4.1. Aliran Kitab Tauhid

Untuk menjelaskan dalil-dalil yang diperlukan dalam menetapkan dasar-dasar aqidah, para ulama tauhid (ulama kalam), dari abad ke abad terus-menerus menyusun berbagai rupa kitab tauhid dan kitab kalam.

Dalam garis besarnya kitab-kitab tersebut terbagi atas tiga aliran:

(1) Aliran Salafi atau Ahlun Nash. Di antara pemukanya ialah Imam Ahmad Ibn Hanbal.
(2) Aliran Ahlul I’tizal (Mu’tazilah) yang dipelopori oleh Washil ibn ‘Atha’.
(3) Aliran Asy’ari, yang dipelopori oleh Abul Hasan al-Asy’ari. jejaknya berturut-turut diikuti oleh Abu Bakar al-Baqillani, al-Juani, al-Ghazali, Ibnul Kathib, al-Baidawi dan ulama-ulama lain seperti ath- Thusi, at-Taftazani dan al-Ijzi.

Di samping itu ada pula aliran Maturidi, yang dipelopori oleh Abu Manshur al-Maturidi.
Cuma yang disayangkan ialah kebanyakan kitab-kitab yang disusun belakangan, tidak berdasarkan Salafi dan tidak pula berdasarkan nadhar yang benar. Setengahnya ada yang mendasarkan kepercayaan kepada dalil-dalil yang dapat dibantah oleh para filosof dan tidak dapat dipertahankan.2

 

1. Dari 1 sampai 10, baik dilewati, jika ingin langsung mempelajari dalil-dalil ada-Nya Allah atau dalailul wujud atau dalailut tauhid.
2. Lihat. ‘Abdurrahman al-Jazairi Taudihul ‘Aqa’id.

 

4.2. Pengertian Ilmu Tauhid

Ada beberapa ta’rif ilmu tauhid yang diberikan oleh para ulama. Di bawah ini disebutkan beberapa diantaranya yang dipandang tepat dengan yang dimaksud.

Pertama: Ilmu tauhid, ialah “ilmu yang membahas dan melengkapkan segala hujjah, terhadap keimanan, berdasarkan dalil-dalil akal serta menolak dan menangkis segala paham ahli bid’ah yang keliru, yang menyimpang dari jalan yang lurus”.

Kedua: Ilmu tauhid, ialah ilmu yang di dalamnya dibahas:

[1] Tentang wujud Allah, sifat-sifat-Nya yang wajib di-itsbat-kan bagi-Nya, sifat-sifat yang harus (mumkin) bagi-Nya dan sifat-sifat yang wajib ditolak daripada-Nya.
[2] Tentang kerasulan rasul-rasul untuk membuktikan dan menetapkan kerasulannya; tentang sifat-sifat yang wajib baginya; sifat-sifat yang mumkin dan tentang sifat-sifat yang mustahil baginya.

Ta’rif pertama, memasukkan segala soal keimanan, baik mengenai ketuhanan, kerasulan, maupun mengenai soal-soal gaib yang lain, seperti soal malaikat dan akhirat. Tegasnya, melengkapi Ilahiyat, (soal-soal ketuhanan), nubuwwat (kenabian, kitab, malaikat) dan Sam’iyat (soal-soal keakhiratan, alam gaib). Ta’rif yang kedua mengkhususkan ilmu tauhid dengan soal yang mengenai ketuhanan dan kerasulan saja.

Dengan berpegang pada ta’rif yang pertama, maka sebahagian ulama tauhid membahas soal-soal malaikat, soal-soal kitab, soal-soal kadar, soal-soal akhirat, dan lain-lain yang berhubungan dengan soal beriman di bagian akhir dari kitab-kitab mereka.

Ulama yang berpegang pada ta’rif yang kedua, hanya membahas soal-soal yang mengenai ketuhanan dan kerasulan saja. Risalah Tauhid Muhammad Abduh yang sangat terkenal dalam dunia ilmu pengetahuan adalah salah satu dari kitab yang berpegang pada takrif kedua.3

 

3. Risalah Tauhid.

 

4.3. Perkembangan Ilmu Tauhid Dalam Sejarah Dan Cara Al-Qur’an Membicarakannya

Ilmu yang membahas dasar-dasar iman kepada Allah dan Rasul, telah sangat tua umumnya. Di setiap umat sejak zaman purba, ada ulamanya yang membahas ilmu ini. Cuma, mereka dahulu tidak mendasarkan penerangan-penerangan yang mereka ajarkan, kepada alasan-alasan akal; bahkan mereka kurang sekali mendasarkan kepercayaan kepada hukum dan karakter alam.

Al-Qur’an yang didatangkan untuk menyempurnakan segala yang masih kurang, segala yang belum sempurna, memakai cara dan sistem berpadanan dengan perkembangan akal dan kemajuan ilmu. Al-Qur’an menerangkan iman dengan mengemukakan dalil serta membantah kepercayaan yang salah dengan memberikan alasan-alasan yang membuktikan kesalahannya. Al-Qur’an menghadapkan pembicaraannya kepada akal serta membangkitkan dari tidurnya dan membangunkan pikiran dengan meminta pula supaya ahli-ahli akal itu memperhatikan keadaan alam. Maka al-Qur’an-lah akal bersaudara kembar dengan iman.

Memang diakui oleh ulama-ulama Islam, bahwa diantara “ketetapan agama”, ada yang tidak dapat diitikadkan (diterima kebenarannya) kalau bukan karena akal menetapkannya, seperti: mengetahui (meyakini) ada-Nya Allah, qudrat-Nya, ilmu-Nya dan seperti membenarkan kerasulan seseorang rasul. Demikian juga mereka bermufakat menetapkan, bahwa mungkin agama mendatangkan sesuatu yang belum dapat dipahami akal. Akan tetapi, mungkin agama mendatangkan yang mustahil pada akal.

Al-Qur’an mensifatkan Tuhan dengan berbagai sifat yang terdapat namanya pada manusia, seperti: qudrat, ikhtiyar, sama’, dan bashar. karena al-Qur’an menghargai akal dan membenarkan hukum akal, maka terbukalah pintu nadhar (penyelidikan) yang lebar bagi ahli-ahli akal (ahli-ahli nadhar) itu dalam menetapkan apa yang dimaksud oleh al-Qur’an dengan sifat-sifat itu. Pintu nadhar ini membawa kepada berwujud berbagai rupa paham diantara para ahli akal atau nadhar. Perselisihan yang terjadi karena berlainan nadhar ini, dibenarkan al-Qur’an asal saja tidak sampai kepada meniadakan sifat-sifat Tuhan, seperti yang diperbuat oleh golongan Mu’aththilah dan tidak sampai kepada menserupakan sifat-sifat Tuhan dengan sifat-sifat makhluk, sebagai yang dilakukan oleh golongan Musyabbihah.

Para ulama salah mensifatkan tuhan dengan sifat-sifat yang tuhan sifatkan diri-Nya dengan tidak meniadakan-Nya, tidak menyerupakan-Nya dengan makhluk dan tidak menakwilkannya. Para mutakalimin khalaf mensifatkan Tuhan dengan cara menakwilkan beberapa sifat yang menurut pendapat mereka perlu ditakwilkan. Golongan mutakalimin khalaf membantah ta’thil (meniadakan sifat Tuhan) dan membantah tamsil (menyerupakan sifat Tuhan dengan sifat rnakhluk).

Ringkasnya, para salaf beritikad sepanjang yang dikehendaki oleh lafadh. tetapi dengan mensucikan Allah dari serupa dengan makhluk. 4

4. Perhatikan uraian Dr. Muhammad al-Bahy dalam al-Janibul llahi.

 

4.4. Kedudukan Nadhar Dalam Islam

Dalam kitab Hawasyil Isyarat disebutkan, bahwa nadhar itu ialah menggunakan akal di sekitar masalah yang dapat dijangkau oleh akal (ma’qulat).

Para filosof bermufakat, bahwa nadhar itu hukum yang digunakan dalam mengetahui dalil. Alasan yang menegaskan bahwa nadhar ini sah dan menghasilkan keyakinan, ialah bahwa dalam alam ini terdapat kebenaran dan kebatalan. Manusia juga terbagi atas dua macam: Ahli hak dan ahli batal. Tidak dapat diketahui mana yang hak dan mana yang batal. kalau bukan dengan nadhar. Dengan demikian maka fungsi nadhar (penelitian) ialah untuk menjelaskan hal-hal yang gaib agar dapat dicerna oleh akal disamping menentukan mana yang benar diantara dua pendapat yang berbeda. Melalui nadhar, manusia bisa sampai pada pengetahuan yang meyakinkan. Untuk mengetahui mana yang hak dan mana yang batal. mana yang kufur dan mana yang iman, demikian pula untuk mengenal Allah dan Rasul-Nya lebih jelas haruslah melalui nadhar. Karena itu, bertaklid buta. Tidak mau lagi melakukan nadhar adalah keliru sesat dan menyesatkan. Dalam al-Qur’an cukup banyak dijumpai ayat-ayat yang memerintahkan untuk melakukan nadhar. Diantara-nya ialah:

 

Katakanlah ya Muhammad: “Lihatlah apa yang di langit dan di bumi; dan tidak berguna tanda-tanda dan peringatan-peringatan kepada kaum yang tidak beriman”. (QS. Yunus (l0): 10l).

 

Mengapakah mereka tidak melihat kepada alam (malakut) langit dan bumi dan kepada apa yang Allah jadikan?. (QS. al-A’raf (7): 185).

 

Maka ambil ibaratlah wahai ahli akal. (QS. al-Hasyr (59): 2).

 

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim bumi malakut (langit) dan bumi. (QS. al-An’am (6): 75).

Ayat-ayat tersebut diatas adalah nash yang tegas yang mendorong untuk melakukan nadhar terhadap segala maujud, dan menjadi nash yang tegas pula yang mewajibkan kita memakai qiyas ‘aqli atau qiyas manthiqi dan sya’i. Ayat yang terakhir menerangkan, bahwa Allah telah nadhar kepada Ibrahim as.

 

4.5. Kedudukan Akal Dalam Pandangan Islam

Dalam kitab Hawasyil-Isyarat diterangkan bahwa akal itu, ialah tenaga jiwa untuk memahami mujarradat (sesuatu yang tidak dapat diraba atau dirasa dengan pancaindera). Kekuatan jiwa yang mempersiapkan untuk memikir (berusaha), dinamai dzihin. Gerakan jiwa untuk memikir sesuatu agar diperoleh apa yang dimaksudkan, dinamai fikir.

Tersebut dalam suatu kitab falsafah: “Akal itu suatu kekuatan untuk mengetahui makna mujarradat, makna yang diperoleh dari menyelidiki dan rupa-rupa benda”. memperhatikan rupa-rupa benda”. Al-Mawardi dalam A’lamun-Nubuwwah menulis: “Akal itu suatu tenaga yang memberi faedah bagi kita mengetahui segala yang menjadi kepastiannya”. Ada pula yang mengatakan: “Akal itu kekuatan yang membedakan yang hak dengan yang batal”.

Al-Mawardi membagi akal kepada: gharizi dan kasbi. Gharizi adalah pokok akal, sedang kasbi adalah cabang yang tumbuh daripadanya: itulah akal yang dengannya berpaut dan bergantung taklif dan beribadat. Adapun akal kasbi (akal muktasab), ialah akal yang digunakan untuk berijtihad dan menjalankan nadhar. Akal ini tidak dapat terlepas dari akal gharizi, sedang akal gharizi mungkin terlepas dari akal ini.

 

4.6. Martabat Akal Dalam Memahami Hakikat

Para hukama berpendapat bahwa manusia memahami hakikat dengan jalan: [1] dengan pancaindera, dalam hal ini manusia sama dengan hewan; dan [2] dengan akal (rasio).

Mengetahui sesuatu dengan akal hanya tertentu bagi manusia. Dengan akallah manusia berbeda dari binatang.

Orang yang telah biasa memperhatikan soal-soal yang ma’qulat (yang diperoleh melalui akal) nyata kepadanya kemuliaan dan keutamaan yang diketahuinya itu. Baginya terang pula bahwa yang diketahui melalui indera pemandangan akal sama dengan sesuatu yang masib kabur, dibanding sesuatu yang telah dapat dipastikan baiknya melalui akal. Inilah sebabnya Al-Qur’an dalam seruannya kepada mengakui ada-Nya Allah dari keesaan-Nya, membangkitkan akal dari tidurnya. Seruan yang begini, tidak dilakukan oleh umat-umat yang dahulu. sebagai yang sudah dibayangkan sebelum ini.

 

4.7. Bukti Kelebihan Dan Keutamaan Akal Atas Pancaindera

Para hukama telah membuktikan, bahwa akal lebih mulia dari pancaindera. Apa yang diperoleh akal lebih kuat dari yang didapati pancaindera.

Alasannya:

[1] Pancaindera hanya dapat merasa, melihat dan membaui.
[2] Akal dapat menjelaskan tentang adanya Zat Tuhan. sifat-sifat-Nya dan berbagai soal yang hanya bisa diperoleh melalui akal, dan berbagai macam pengetahuan hasil nadhar.
[3] Akal dapat sampai pada hakikat, sedang pancaindera hanya memperoleh yang lahir saja, yaitu yang terasa saja.
[4] Akal tidak berkesudahan, sedang pancaindera adalah berkesudaban (hiss).

 

4.8. Akal Pokok Pengetahuan

Al-Mawardi berpendapat, bahwa dalil itu, ialah sesuatu yang menyampaikan kepada meyakini mad-lul-nya. Dalil-dalil diyakini dengan jalan akal dan mad-lul-nya diyakini dengan jalan dalil. Tegasnya, akal itu menyampaikan kepada dalil; dia sendiri bukan dalil. Karena akal itu pokok segala yang diyakini, baik dalil maupun madlul. Mengingat hal ini dapatlah dikatakan, akal adalah pokok pengetahuan (al-‘aqlu ummul ‘ulum). Ilmu yang diperoleh daripadanya ialah pembeda kebenaran dari kebatalan; yang shahih yang fasid; yang mumkin dari yang mustahil.

Ilmu-ilmu yang diperoleh melalui akal, ada dua macam: Idthirari dan Iktisabi.

1. Ilmu Idthirari, ialah ilmu yang diperoleh dengan mudah, tidak perlu melakukan nadhar yang mendalam. Ilmu ini terbagi dua: [1] yang terang dirasakan; dan [2] berita-berita mutawatir.

Ilmu yang dirasakan atau yang diperoleh dengan hiss, datang sesudah akal, dan ilmu khabar mendahului akal.

Ilmu Idthirari ini, tidak memerlukan nadhar dan istidal; karena mudah diketahui. Khawwash dan ‘awwam dapat mengetahuinya, ilmu yang diperoleh dengan jalan ini, tidak ada yang mengingkarinya.

2. Ilmu Iktisabi, ialah ilmu yang diperoleh dengan jalan nadhar dan istidal. Dia tidak mudah diperoleh. Ilmu inilah yang memerlukan dalil atau dimintakan dalilnya.

Ilmu Iktisabi ini terbagi dua juga:

– yang ditetapkan oleh akal (berdasarkan ketetapan-ketetapan akal).
– yang ditetapkan oleh hukum-hukum pendengaran (yang diterima dari syara’).

Hukum-hukum yang ditetapkan berdasarkan akal terbagi dua pertama, yang diketahui karena mengambil dalil dengan tidak berhajat kepada dalil akal (nadhar); kedua, yang diketahui karena mengambil dalil dengan dalil-dalil akal.

Yang diketahui dengan tidak perlu kepada dalil akal (nadhar) ialah yang tidak boleh ada lawannya, seperti keesaan Allah. Dengan sendirinya akal dengan mudah mengetahui keesaan Tuhan itu. Yang diketahui dengan memerlukan dalil akal, ialah: yang boleh ada lawannya, seperti seseorang nabi mendakwakan kenabiannya. Ringkasnya mengetahui atau meyakini keesaan Allah tidak memerlukan akan akal; sebab dengan mudah akal dapat mengetahuinya. Adapun meyakini kerasulan seseorang rasul, memerlukan dalil akal.

Ketetapan-ketetapan yang berdasarkan hukum pendengaran, diterima dari Shahibisy Syari’ah, sedang akal disyaratkan dalam melazimi ketetapan-ketetapan itu, walaupun pendengaran tidak disyaratkan dalam soal-soal yang ditetapkan akal semata-mata.

Hukum-hukum yang ditetapkan oleh pendengaran ada dua macam: yakni: Ta’abbud dan Indzar. Ta’abbud mencakup larangan dan suruhan. Indzar, mencakup wa’ad dan wa’id.

 

4.9. Jalan Mengetahui ada-Nya Allah

Abu Haiyan mengatakan: Mengetahui ada-Nya Allah adalah daruri, jika ditinjau dari sudut akal, dan nadari dari sudut hiss pancaindera.

Ilmu adakala dituntut melalui akal, dalam soal-soal yang dapat dipikirkan (ma’qulat), adakala dituntut dengan hiss (pancaindera) dalam soal-soal yang dirasakan. Seseorang manusia bisa memikir, bahwa mengetahui ada-Nya Allah adalah suatu iktisab (hal yang diperoleh dengan jalan istidlal): karena hiss itu mencari-cari dan membolak-balikkan masalah dengan pertolongan akal. Dia dapat pula memikiri, bahwa mengetahui ada-Nya Allah, daruri; karena akal yang sejahtera menggerakkan manusia kepada mengakui ada-Nya Allah dan menyalahkan akal mengingkari-Nya.

Al-Farabi dalam al-Fushush (fash yang empat belas, menulis: “Anda dapat memperhatikan alam makhluk, kalau anda lihat tanda-tanda pembuatan. Tetapi juga anda dapat meninjau alam mahad (alam yang terlepas dari kebendaan), lalu anda yakini, bahwa tidak boleh tidak ada-Nya Zat. Dan dapat pula anda mengetahui betapa seharusnya sifat-sifat yang ada pada Zat itu. Kalau anda memandang alam maddah, berarti anda naik dan kalau anda memperhatikan alam mahad, berarti anda turun”.

 

 Daftar IsiKit…

Sampingan

Gambar

“PETA JALAN MENUJU FARMASIS YANG BERKARAKTER”

 

Hari masih terlalu gelap untuk kita melangkah, sang surya masih berada dipersembunyianya. Gedung farmasi yang begitu kokoh dan gagahya masih belum tampak menunjukan keindahanya sehingga perlu ada sesuatu lilin yang bisa menerangi untuk menunjukan “peta jalan menuju farmasis yang berkarakter” yang diharapkan dari seluruh warga penghuni farmasi.

Dari secercah harapan untuk menuju farmasi yang lebih baik dan berkarakter maka Badan Eksekuti Mahasiswa Fakultas Farmasi ingin menjadikan ospek Maserasi sebagai sebuah momentum awal kebangkitan farmasi, ungkap Rifqi Ferry Balfas selaku Gubernur BEM. Dengan tema tersebut diharapkan  mahasiswa farmasi bisa menjadi mahasiswa yang berkarakter dan bisa menjadi peta sebagai penunjuk jalan masyarakat awam untuk pelayanan kesehatan khususnya dibidang farmsi, bukan rahasia umum lagi bahwa image yang berkembang dimasyrakat adalah “orang miskin dilarang sakit” tentu menjadi sebuah ironi tersendiri  bagi seluruh penggiat dunia kesehatan, namun sampai saat ini pendahulu atau orang tua kita dibidang kesehatan belum bisa berbuat apa-apa bahkan terkesan tidak berbuat apa-apa, maka dengan disertai niat tulus ikhlas dan semangat yang berapi-api untuk melakukan perubahan walaupun dari hal yang terkecil dengan melakukan penanaman karakter pada seluruh mahasiswa baru pada kesempatan ospek maserasi dinilai sangat tepat.

“When character is lost, everyting is lost.” Kita telah kehilangan karakter dan itulah awal kehilangan segalanya. Inilah yang menjelaskan mengapa farmasis ini belum bisa memberikan pelayanan yang terbaik untuk segenap rakyatnya. Karena lemahnya karakter para praktisi tenaga farmasis juga menyebabkan farmasi sampai sekarang ini masih dipandang sebelah mata. Apakah kita akan seperti ini terus????

Dikatan gubernur BEM Rifqi Ferry Balfas, Mahasiswa baru adalah kertas putih yang masih kosong dan belum tercoret-coret apapun maka inilah momen yang tepat untuk mengisi coretan atau mengarahkan para mahasiswa baru dengan menanamkan dan menguatkan karakter, sebab karakter yang kuat menghasilkan farmasis yang bermartabat. Dalam ospek maserasi selain diskusi menjadi farmasis yang berkarakter juga ada diskusi tentang mahasiswa dan karakternya dimana kita ketahui bersama mahasiswa terbagi dalam berbagai katagori, ada mahasiswa aktifis, akademis, hedonis dan lain sebagainya. Tujuan dari diskusi ini tentunya membuka wacana kepada seluruh mahasiswa baru bahwa betapa bervarianya kehidupan kampus. Tentunya juga ikut mengarahkan untuk mahasiswa baru agar cerdas dalam memanfaatkan dunia kampus.

Dikatakan cerdas apabila mahasiswa mengikuti organisasi, di Universitas Muhammadiyah Purwokerto ditawarkan macam-macam organisasi, ada BEM, IMM, UKM. Karena pada hakikatnya menuntut ilmu tidak hanya duduk diam dibangku perkuliahan saja tapi menuntut ilmu sejatinya adalah mereka yang selalu bergerak untuk memuaskan nafsu intelektualitasnya dan dinilai bangku perkuliahan terlalu sempit untuk memuaskan nafsunya. Maka pilihan yang tepat untuk mahasiswa adalah berorganisasi, lewat organisasi mereka akan matang setelah keluar dari dunia kampus. Tentunya nafsu intelektualitas merekapun akan terpuaskan, mereka akan menemukan berbagai macam pertanyaan yang tidak bisa dijawab dibangku perkuliahan. Dalam berorganisasi juga kita selalu distimulasi untuk berfikir universal tidak pada satu disiplin ilmu saja yang akan mengerdilkan mahasiswa itu sendiri. Sudah seharusnya mahasiswa farmasi juga dibuka tentang wawasan kebangsaan karena kita juga bagian dari bangsa ini.

Bukan menjadi rahasia umum jika para pemimpin bangsa adalah orang yang berorganisasi semuanya, maka jika temen-temen mahasiswa baru ingin menjadi orang besar ataupun pemimpin dari tingkat kepala negara sampai kepala RT pun berorganisasi, tutur Eko Hidayat selaku ketua panitia Ospek Maserasi 2012. Dikatakan eko bahwa mahasiswa yang hanya cerdas dalam akademik tidak bisa menjamin nantinya dalam dunia nyata mereka akan tersisih dengan sendirinya karena adanya hukum seleksi alam, mahasiswa yang gila dengan akademis juga akan memiliki karakter yang lemah sehingga itu tidak diharapkan untuk kemajuan farmasi kedepan tentunya itu juga bukan dari tujuan ospek maserasi kali ini.

Dalam rangka menunjang penanaman karakter maka selain diskusi juga diadakan analisis sosial dimana nantinya mahasiswa baru Fakultas Farmasi diterjunkan ke lapangan atau kemasyarakat dalam rangka untuk mengetahui seberapa besar tingkat antusiasme masyarakat terhadap apoteker, serta berbagai pelayanan apoteker dan tentunya keluhan serta kebiasaan masyarakat ketika sakit. Selain alasan tersebut juga mahasiswa dituntut untuk aktif dalam masyarakat karena nantinya lingkup kerja kita adalah dengan masyarakat bukan dengan buku ataupun pensil saja. Mahasiswa didorong untuk bisa berkomunikasi dengan masyarakat secara baik dan segala permasalahan yang ada dimasyarakat dirumuskan untuk dicari pemecahanya bersama. Sehingga mahasiswa baru bisa menjadi lilin kecil yang bisa menerangi dan menjadi peta untuk menunjukan jalan kepada masyarakat awam dengan karakternya yang kuat dari para farmasis. Sungguh tujuan yang mulia dari ospek maserasi 2012 semoga apa yang telah dikonsepkan para panitia bisa berjalan lancar…. amien

Tetap semangatlah saudaraku Rifqi Ferry Balfas , Eko Hidayat dan seluruh pantia ospek maserasi, pembaharuan yang kalian lakukan sungguh luar biasa, semoga bisa menjadi pemantik awal para farmasis untuk bergerak melakukan perubahan seperti apa yang kalian lakukan.

“PETA JALAN M…

Sampingan

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP TEMATIK)

 

Mata Pelajaran            : Bahasa Indonesia dan SBK

Kelas                           : II

Tema                           : Lingkungan

Semester                      : 1 (Satu)

Alokasi                        : 2 X 35 Menit (2 Jam Pelajaran)

 

  1. I.                   Standar Kompetensi
  • B. Indonesia

Mendengarkan

  • Memahami teks pendek dan puisi anak yang dilisankan.

Berbicara

  • Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman secara lisan melalui kegiatan betanya, bercerita, dan deklamasi.
    • SBK
    • Seni Musik  : Mengekspresikan diri melaluikarya seni musik.

 

  1. II.                Kompetensi Dasar
  • B. Indonesia
  • Menyebutkan kembali dengan kata-kata atau kalimat sendiri isi teks pendek.
  • Menceritakan kegiatan sehari-hari.
  • Melengkapi cerita sederhana dengan kata yang tepat.
    • SBK
    • Mengungkapkan perasaan yang dialami melalui perubahan tempo pada lagu dengan gerakan.

 

 

  1. III.             Indikator
  • B. Indonesia
  • Mendengarkan pesan teks pendek yang dibacakan guru.
  • Menceritakan kembali isi teks bacaan dengan bahasa sendiri.
    • SBK
    • Mendengarkan lagu.
    • Menyanyikan lagu.
    • Membaca teks dengan bersuara.

 

  1. IV.             Tujuan Pembelajaran
  • B. Indonesia
  • Melalui pendengaran, siswa dapat mendengarkan pesan teks pendek yang dibacakan guru.
  • Melalui pengamatan, siswa dapat menceritakan kembali isi teks bacaan dengan bahasa sendiri.
    • SBK
    • Melalui pendengaran, siswa dapat mendengarkan lagu.
    • Melalui demonstrasi, siswa dapat menyanyikan lagu.
    • Melalui penugasan, siswa dapat membaca teks dengan bersuara.

 

  1. V.                Materi Pembelajaran

Kebun Gajah

suatu hari

kelinci dan kura kura

berjalan lewat kebun milik gajah

aneka tumbuhan ada di sana

ada sayuran buah dan bunga

 

tiba tiba

ada durian jatuh

di atas punggung kura kura

untung kura kura tidak terluka

punggung kura kura sangat keras

kelinci ajak kura kura

untuk makan durian bersama

kura kura tidak mau

durian itu milik gajah

 

kelinci katakan

durian itu jatuh di jalan

kura kura tetap ingin

kembalikan durian pada gajah

 

kelinciakhirnya ikut kura kura

kembalikan durian pada gajah

 

sebagai ucapan terima kasih

gajah beri aneka buah

pada kelinci dan kura kura

gajah tak lupa minta maaf

pada kura kura

 

  • SBK

Kebunku

Lihat kebunku

penuh dengan bunga

ada yang putih

dan ada yang merah

seiap hari

ku siram semua

mawar melati

semuanya indah

 

  1. VI.             Metode Pembelajaran
  • Ceramah
  • Diskusi
  • Penugasan
  • Tanya Jawab
  • Demonstrasi

 

  1. VII.          Langkah-Langkah Pembelajaran
    1. A.    Kegiatan Awal (10 menit)

Apersepsi:

  • Siswa berdoa dan dilanjutkan dengan guru melaksanakan presensi.
  • Guru mengkondisikan kelas dan siswa pada situasi belajar  yang kondusif.
  1. B.     Kegiatan Inti (50 menit)
  • Eksplorasi
    • Mendengarkan pesan teks pendek yang dibacakan guru.
    • Menceritakan kembali isi teks bacaan dengan bahasa sendiri.
    • Mendengarkan dan menyanyikan lagu.
    • Membaca teks dengan bersuara.
    • Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.
    • Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran.
    • Elaborasi
      • Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis.
      • Memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut.
      • Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran.
      • Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar.
      • Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara  kelompok.
      • Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok.
      • Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
      • Konfirmasi
        • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa.
        • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan.
  1. C.    Kegiatan Akhir (10 menit)
  • Membuat kesimpulan dari tiap materi yang disampaikan.
  • Mengerjakan post tes.

 

  1. VIII.       Sumber Dan Media Pembelajaran
  • Sumber
  • Ismoyo, & Romiyatun. 2008. Aku Bangga Bahasa Indonesia Untuk Sekolah Dasar Kelas II. Jakarta: Depdiknas.
  • Nelitayanti, Novita Tri. 2008. Cinta Berbahasa Indonesia Untuk Kelas 2 Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.
  • Sukardi, dkk. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk SD Kelas II. Jakarta: Erlangga.
    • Media
    • Cerita.
    • Lagu Anak-Anak.

 

  1. IX.             Penilaian
    1. Prosedur Penilaian
      1. Pre Tes                      : Dari Apersepsi
      2. Post Tes                    : Evaluasi
      3. Bentuk Tes                      : Tertulis dan Lisan
      4. Jenis Tes
        1. Evaluasi        : Isian
        2. Alat Tes
          1. Bentuk Tes    : Soal Evaluasi (terlampir)
          2. Kunci Jawaban (terlampir)
          3. Format Penilaian

No.

Nama Siswa

Jumlah Skor

Nilai

1.

2.

3.

4.

5.

 

 

 

 

Kriteria Penilaian

  1. Produk (hasil diskusi)

No.

Aspek

Kriteria

Skor

1.

Konsep

{  Semua benar

{  Sebagian besar benar

{  Sebagian kecil benar

{  Semua salah

4

3

2

1

  1. Performasi

No.

Aspek

Kriteria

Skor

1.

 

 

 

2.

Kerjasama

 

 

 

Partisipasi

{  Bekerjasama

{  Kadang-kadang kerjasama

{  Tidak bekerjasama

 

{  Aktif berpartisipasi

{  Kadang-kadang aktif

{  Tidak aktif

4

2

1

 

4

2

1

  1. Lembar Penilaian

No.

Nama Siswa

Performan

 

Produk

Jumlah

Nilai

 

 

Kerjasama

Partisipasi

 

Skor

 

1.

2.

3.

4.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CATATAN:

Nilai = (Jumlah skor : jumlah skor maksimal) X 10

 

Bojongsari, 10 Juli 2012

Mengetahui,                                                               

Kepala SDN 1 Bojongsari                                                      Guru Kelas II                             

 

 

Endang Setiowati S.Pd                                                          Muthoharul Janan                     

NIP.                                                                                       NIM.1101100178                                             

 

 

 

 

RENCANA PELAKSA…

Sampingan

 

Recana Pelaksanaan Pembelajaran

B. Indonesia  Kelas V semester 1

DI SUSUN OLEH :

                                          Nama                : Muhammad Fauzan Muttaqin

                                          NIM                   : 1101100182

                                          Semester          : II

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

2012

 

 

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran    :     Bahasa Indonesia

Kelas/semester :    V (lima) /1 (satu)

Pertemuan Ke :    1

Alokasi Waktu     :     2 X 35 menit

I.     Standar Kompetensi

1.  Memahami penjelasan narasumber dan cerita rakyat secara lisan

II.   Kompetensi Dasar

1.1. Menanggapi penjelasan narasumber (petani, pedagang, nelayan, karyawan, dll.) dengan memperhatikan santun bahasa

III.  Indikator :

  • Mencatat pokok-pokok pembicaraan.
  • Mengajukan pertanyaan sesuai dengan pokok-pokok pembicaraan.
  • Menanggapi isi penjelasan.
  • Menyimpulkan isi penjelasan narasumber

IV.  Tujuan Pembelajaran

·         Siswa mampu mencatat pokok-pokok dan menanggapi isipenjelasan

V.   Materi Ajar :

·         Penjelasan narasumber

VI.  Metode Pembelajaran

·         ceramah, latihan, penugasan, dan diskusi

VII.     Langkah-Langkah Pembelajaran :

A. Kegiatan Awal

  • Siswa berdo’a  dan selanjutnya guru mengadakan apersepsi dengan cara mengabsen kehadiran siswa serta dilanjutkan dengan menyanyikan salah satu lagu wajib nasional secara bersama-sama.
  • Untuk membangkitkan motivasi belajar, siswa mengadakan persiapan berwawancara.
  • Siswa diberi kesempatan untuk bertanya mengenai materi pembelajaran.

       B. Kegiatan Inti

  • Siswa mencatat pokok-pokok pembicaraan melalui kegiatan ceramah dan latihan.
  • Siswa mengajukan pertanyaan sesuai dengan pokok-pokok pembicaraan melalui kegiatan penugasan dan diskusi.
  • Siswa menanggapi isi penjelasan melalui kegiatan latihan dan penugasan.
  • Siswa menyimpulkan isi  penjelasan narasumber melalui kegiatan penugasan dan diskusi.

       C. Kegiatan Akhir

  • Siswa dan guru mengadakan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
  • Siswa diberi tugas memencatat dan menanggapi isi penjelasan dari narasumber lain.

VIII.    Alat/Bahan/Sumber Belajar

·         Buku Bina Bahasa Indonesia Kelas 5, hal. 37-41, PT Erlangga, dan Standar Isi 2006

IX.. Penilaian

       Teknik

tes dan non-tes

       Bentuk

pilihan ganda, isian, dan essay

       Instrumen

  • Catatlah  pokok-pokok pembicaraan dari narasumber !
  • Coba ajukan pertanyaan sesuai dengan pokok-pokok pembicaraan !
  • Berikanlah tanggapan terhadap isi penjelasan dari narasumber !
  • Buatlah kesimpulan dari isi penjelasan narasumber !

Kramat, 10 juli 2012

Mengetahui,

Kepala SD Negeri 1 Keramat                         Guru KelasV

Suparman S.Pd                                                     Muhammad Fauzan Muttaqin

NIP:                                                                           NIM: 1101100182

 Recana Pelaks…

Sampingan

.Gambar

 

Kerangka Berpikir

“Menyemai Gerak Langkah Ikatan Profetik Menuju  Masyarakat Merdeka 100 % “

Oleh : Muhammad Fauzan Muttaqin (Kader IMM Banyumas)

 

 

Profile IMM

 
   

 

 

 

 

Profetik

 
   

 

 

 

 

Peran Kader Bangsa

 
   

 

 

 

 

Masyarakat Merdeka 100 %

(Merdeka dalam Intelektual sebagai alat untuk memerdekakan)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menyemai Gerak Langkah Ikatan Profetik Menuju  Masyarakat Merdeka 100 % “

Oleh : Muhammad Fauzan Muttaqin (Kader IMM Banyumas)

 

Pengantar nafas Ikatan :

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Tuhan” (QS. Al Imran:110).

 

Muhammadiyah sering disebut sebagai gerakan pembaharuan. Pilihan gerakan pada bidang dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar sejak awal pendiriannya merupakan fenomena baru dalam lingkup gereakan Islam di negeri ini.  Guna mencapai cita-cita gerakan yang telah dirintis dan dikembangkannya, Muhammadiyah harus memiliki kekuatan pendukung, pengerak dan pelangsung gerakan, bahkan bila mungkin menyempurnakannya. Kekuatan ini akan menjadi basis  pendukung yang pada saatnya akan tampil menjadi kekuatan inti gerakan. Abdul Munir Mulkhan,dalam buku berjudul Kesalehan Multikultural mengatakan Kerangka keilmuan dalam muhammadiyah juga dimiliki oleh kiai Ahmad Dahlan yang juga yang telah menganjurkan agar mencari ilmu-ilmu tentang ukhrawi saja. Ia juga meletakan etos guru dan murid merupakan warga aktifitas muhammadiyah yang selalu bersedia belajar kepada siapapun agar dapat memperoleh ilmu,kebenaran dalam kebaikan (murid) dan selalu menyebarkan ilmu,kebenaran dan kebaikan itu saat berkomunikasi dengan orang lain siapapun orang itu (guru).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai salah satu ortom di Muhammadiyah mengenal sebuah ideology yang  terangkum dalam sebuah Trilogy ikatan sebagai sebuah alat untuk mencapai tujuan dari ikatan, yang merupakan lahan juang dan symbol ikatan dalam melakukan transformasi social. Trilogy ikatan merupakan hal penting dikarenakan dalam trilogy memiliki makna yang kompleks, sebagai roh ikatan dalam menilai diri, dan cara melakukan tranformasi social. Sifat dari trilogy merupakan kesatuan yang integral, dimana tidak bisa dipisahkan satu sam lain tetapi dapat dibedakan. Hal tersebut karena ketiganya merupakan cerminan dari realitas pada diri ikatan, meliputi asal, latar belakang, basis kader ikatan, basis keagamaan dan lahan garap untuk melakukan transformasi social baik dalam wilayah kemahasiswaan, keagamaan, dan masyarakat.

  1. Keagamaan

Merupakan pengaplikasian dari kepribadian Muhammadiyah sebagai landasan  perjuangan

 

 

 

  1. Kemahasiswaan

Merupakan penerjemahan dari ikatan sebagai gerakan mahasiswa Islam, dan fungsi ikatan merupakan sebagai eksponen gerakan mahasiswa dalam Muhammadiyah (stabilisator dan dinamisator)

  1. Kemasyarakatan

Merupakan amal yang diabdikan bagi ikatan untuk nusa dan bangsa

            Pemaknaan yang tertera pada trilogy ingin dijadikan spirit atau yang harus dimiliki oleh ikatan sebagai seorang kader. Interpretasi  terhadap trilogy yaitu keagamaan menjadi religiusitas, kemahasiswaan menjadi intelektualitas dan kemasyarakatan menjadi liberatif dan humanitas. Keinginan seseorang untuk menjadi seorang cendekiawan adalah merupakan keputusan yang sulit. Bukan keterpelajaran dan kecerdasan saja layaknya seorang sarjana atau profesor yang dibutuhkan. Sebut sajalah gologan yang cerdik dan pandai yang menerbangkan pada permadani menara gading tempat huniannya, tetapi cendekiawan tentunya mementa lebih dari itu. Seperti halnya nabi Muhammad, betapa cendekiawanya telah membawa konflik lahir dan batin dalam dirinya manakala ia dihadapkan dengan pertanyaan dan persoalan kaumnya. Seyogyanya seorang cendekiawan kerap merasakan konflik dan gelisah, gusar, serta serah tatkala ada diskrepansi apa yang ia rasakan dengan apa yang dirasakan oleh masyarakat. Cendekiawan merupakan salah satu unsur yang dapat melakukan transformasi sosial, bila mana sadar diri dan sadar sosial ditengah-tengah masa yang talah tidur bahkan sedang amnestia(M.Abdul Halim Sani,2011:116). Mereka memiliki kepedualan untuk membangkitkan kesadaran masyarakatnya dan menjadi motor penggerak bagi perubahan sosial menuju ke arah yang lebih baik. Bagi Kuntowijoyo cendekiwan berani pilihan dan jalan cara dalam melakukan transformasi sosial, memiliki sifat independen dan hurus berani, tidak berpangkat dan tak berhata. Bahkan sifat kecendekiawan Kunto dapat terlihat dalam salah satu puisinya dari judul bukunya Daun Makrifat, Makrifat Daun, ia menuliskan; sebagai hadiah, malaikat menanyakan, apakah aku ingin berjalan diatas mega, dan aku menolak, karena kakiku masih di bumi, sampai kejahatan terkhir dimusnahkan, sampai dhu’afa dan mustadh’afin, diangkat Tuhan dari penderitaan.

            Penyemaian Ikatan Profetik

Asal kata profetik berasal dari kata prophet yang berarti nabi. Kata profetik juga menjadi icon dalam perjuangan pembebasan yang dilakukan oleh masyarakat di kawasan Amerika Latin. Filosof muslim M. Iqbal (turut mempengaruhi pemikiran seorang  pengagas ilmu sosial profetik Indonesia Kuntowijoyo selain Roger Goraudy) pernah mengatakan; mengutip dari perkataan Abdul Quddus seorang mistikus Islam dari Ganggah “Muhammad dari jazirah Arab ke Mi’raj, ke langit yang setinggi-tingginya dan kembali. Demi Allah aku bersumpah, jika sekiranya aku sampai mencapai titik itu, pastilah sekali-kali aku tidak akan kembali lagi ke bumi.” Dari ungkapannya, kelihatannya Sang mistikus tidak memiliki sense sosial, baginya keasyikan dan keterlenaan dalam pengalaman mistik adalah tujuan, sehingga ia tidak hendak kembali melihat realitas dan menghadapi kenyataan. Nabi adalah seorang manusia pilihan yang sadar sepenuhnya dengan tanggung jawab sosial. Ia bekerja kembali dalam lintasan waktu sejarah, hidup dengan realitas sosial kemanusian dan melakukan kerja-kerja transforamsi sosial. Seorang nabi datang dengan membawa cita-cita perubahan dan semangat revolusioner. Intelektual profetik dengan para intelektual yang lainnya itu hampir sama. Hanya bedanya terdapat pada landasan mereka. Ketika para intelektual berfikir, mereka hanya berlandaskan kebebasan akal, tanpa melihat bahwa kedudukan mereka adalah sebagai manusia, sehingga mereka menuhankan akal mereka. Beda dengan intelektual profetik, mereka tetap memerdekakan akal mereka, tapi kemerdekaan akal mereka ada batasannya, yaitu adalah al-Quran dan as-Sunnah. Jadi, sebebas-bebasnya mereka berfikir, tetap ada koridor untuk berfikir. Ini bukan berarti membatasi mereka untuk berfikir. Dalam Ali-Imron ayat 190-191 ; “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal(Ulul Albab). yaitu orang-orang yang mengingat allah sambilberdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata : Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Transformasi profetis yang dimaksudkan transformasi yang dilakukan oleh ikatan berdasarkan nilai-nilai Ilahiah sebagai bentuk yang transformasi yang dilakukan oleh organ atau gerakan yang lain. Bahasa yang digunakan oleh cendekiawan profetik dalam melakukan transformasi sosial adalah menggunakan bahasa kaumnya, dan menghunungkan agama dengan kencendrungannya untuk melakukan perubahan sosial menuju yang lebih baik. Transformasi profetis merupakan tindak lanjut dari sikap intelektual profetik dengan melakukan perubahan sosial yang berkarakter profetis, yang dapat disebut dengan transformasi profetis. Transformasi profetis tidak dapat dilepaskan dengan cendekiawan profetis, layaknya seorang dikatakan intelektual profetis dalam tindakannya atau prilakunya harus dilakukan dengan transformasi profetis. Sebaliknya transformasi profetis tidak dapat dilakukan tanpa melalui pemahaman seorang cendekiwan profetis dalam melihat realitas sosial. Prilaku profetis mereflesikan bentuk pra aksi dan transformasi profetis menggambarkan bentuk real aksi yang dilakukan. Dalam aksi transfomasi profetis terdapat proses ataupun metodologi yang dilalui , dan berikut ini merupakan rincian dalam trasformasi profetis;

1.      Prioritas (pilihan) isu/program/kasus

Setelah mel;akukan pembacaan terhadap realitas dan melkukan analisis kritas maka merumuskan hasil bacaan tersebut. Dengan melakukan pembacaan terhadap realitas belum tetu analisis terhadap realitas selesai, analisis tetap dilakukan dan sekarang merupakan tindakan konkret atau aksinyata dalam melakukan transformasi profetis. Tetapi, sebelum melaksanakan aksi profetis ikatan perlu melakan pilihan isu atau program yang dilakukan dalam melakukan transformasi profetis. Pemilihan isu tersebut, merupakan hal yang penting dikarenakan isu tersebut hars dapat dirasakan oleh semua kader yang bersangkutan di semua level pimpinan dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan transformasi tersebut.

2.      Pemililihan pemihakan

Setelah melakukan kajian dan menentukan pilihan isu yang dijadikan suatu persolan sosial maka yang selanjutnya menentukan pilihan pemihakan. Analisis klritis yang dilakukan oleh intektual profetis didapatkan skema pelaku-pelaku (stakeholder) yang terdapat posisi relasi dalam suatu kasus yang terdapat dalam realitas sosial. Pada tahapan ini ikatan menetukan pemilihan pemihakan terhdap kasus tau problem yang terjadi dalam realitas sosial, sebagai pelaku dalam transformasi profetis. Pemilihan pemihakan yang dilakukan oleh ikatan dilakukan secara sadar dan tanggungjawan dengan pemihakan terhadap yang termarginalkan, dirugikan atau tertindas.

3.      Membentuk kelompok inti

Sarana untuk memalukan perubahan ssosial menurut Jalaluddin Rahamat adalah membentuk creative minority. Begitupula, dengan ikatan harus ada segolongan atau kelompok yang peduli terhadap ikatan yang meberikan sumbangsihnya dengan bercurah gagasan dan ide dalam melakukan transformasi profetik.  Creative minority merupaka kelompok yang memiliki peranan, penggagas, pengerak, pemrakarsa, pengendali utama dalam melakukan transformasi profetis, sekaligus pemenggang kebijakan, tema atau isu strategi dan sasaran dari sutau aksi transformasi profetis yang dilakukan oleh ikatan. Kelompok minoritas tersebut tidak hanya dalam dataran idea melakukan konsep tetapi ia sebagai pemengang dan penngendali konsep dalam tindakan nyata dalam melakukan transformasi profetis yang dilakukan oleh ikatan.  

 

4.      Merancang sasaran dan strategi

Merancang sasaran dan strategi dalam melakukan transformasi sangat penting dikarenakan agar sasaran dan stragetgi dalam meakukan transforasi dapat terlihat dan dilakukan analisis dan yang terpenting adalah terpantau. Merncang dan menentukan strategi sudah termasuk dalam dataran teoritis sekaligus praktis, dikarenakan kita merancang praktis dalam melakukan transforamsi profetis. Rancangan tersebut dapat mengikuti tolak ukur SMART, yang meliputi sebagai berikut;

a.   Spesifik (khusus)

Dalam menentukan rumusan dan sasaran kelompok bersifat spesifik, konreat, jelas, fokus dan tidak terlalu umum. Sifat ini menjadikan jelas siapa dan kenapa memilih kelompok untuk menjadikan subjek dalam transformasi.

 b.   Measurable (terukur)

Dalam proses melakukan transformasi dapat dilakukan evaluasi dan memperbaikinya. Jadi hasil dan proses dalam transformasi cukup terukur (memiliki indikataor yang jelas bisa dipantaui dan diketahui)

c.   Achievable (dapat diraih)

Apa yang dilakukan merupakan suatu uotopia, tetapi transformasi yang dilakukan oleh ikatan bukan hanya bersifat angan-angan, hal tersebut dilakukan karena memiliki tujuan serta indikator yang jelas. Begitupula, transformasi yang dilakukan merupakan sesuatu yang dapat diraih, diwujudkan dan bukan hanya sekedar angan-angan kosong.

d.   Realistik (sesuai kenyataan)

Ikatan dalam melakukan transformasi dalam bentuk yang realistik dengan situasi, keadaan ikatan serta kelompok yang dijadikan subjek dalam transformasi. Ikatan atau kelompok yang dijadikan subjek transformasi mampu melakukan, melaksanakan, dan dapat mencapainya (memiliki sumber daya, kemampuan dan akses).

 

 

e.   Time-bond (batas waktu)

apa yang dilakukan oleh ikatan seperti dalam transformasi memiliki batas waktu yang jelas (kapan dan berapa lama) kelompok ataupun ikatan yang melakukan transfomasi.

 5.      Menggalang skutu dan pendukung

Pelaksanaan transfomasi yang dilakukan dengan hasil penganalisaan maka terbagi kelompok yang mendukung dan yang tidak. Oleh karena itu ikatan mencari kelompok yang dijadikan sekutu dan pendukung dalam melakukan transformasi yang akan dilakukan. Dalam transformasi terdapat lingkaran inti ia sebagai penggerak untama dalam aksi transformasi profetis. Aksi transformati profetis terdiri dari kelompok-kelompk yang mendukung dalam transformasi. Kelompok dalam transformasi ini terdiri dari; kelompok basis (lingkaran inti), kelompok pendukung, dan kelompok sekutu (sebagai garis depan).berikut ini merupakan rincian dari masing-masing kelompok;

  • Kelompok inti
  • Kelompok ini sebagai konseptor, pemegang kebijakan dalam aksi yang dilakukan oleh ikatan sekaligus sebagai pionir dalam transformasi tersebut.
  • Kelompok pendukung
  • Kelompok ini memiliki tugas sebagai menyediakan dukungan dalam bentuk dana, logistik, informasi, data, sekaligus akses.
  • Kelompok sekutu-pelaksana aksi

Kelompok ini memiliki tugas dilapangan dan dalam garis depan dalam melakukan transformasi yang dilakukan oleh ikatan.

6.      Membentuk pendapat umum

Salah satu bentuk yang dilakukan oleh ikatan dalam melakukan transformasi memberitahukan kepada hal layak dalam bentuk kampanye dan propaganda tentau isu atau aksi yang dilakukan. Harapannya adalah mendapatkan simpati dan dukungan dari masyarakat, kampanye dan propaganda ini dilakukan dalam media masa, atau pelatihan, demontrasi dan sebagainya semala masih dalam bentuk perlawanan. 

 

 

7.      Pemantauan dan evaluasi program aksi

Pelaksanaan yang dilakukan secara terprogram dan terlihat dapat dilkuan evaluasi sehingga dapat memperbaiki dan melakukan kajian yang lebih mendalam lagi. Pemantauan aksi tersebut memerlukan instrumen yang meliputi empat unsur.

1)                  Sasaran hasil

  1. Sasaran hasil merupakan suatu keadaan tertentu yang diinginkan dicapai setelah pelaksanaan kegiatan.

2)                  Indikator

  1. Indikator adalah beberapa petujuk tertentu yang akan meyakinkan apakah sasaran atau hasil sudah tercapai atau belum

3)                  Pengujian

  1. Pengujian merupakan cara yang digunakan untuk memmperoleh bukti-bukti yang menunjukan bahwa indikator tersebut mencapai tujuan atau tidak.

4)                  Asumsi

  1. Asumsi merupakan suatu keadaan tau hal tertentu yang menjadi prasyarat terlaksananya kegiatan yang direncanakan sehingga indikator benar-benar terwujud dan sasaran dapat dicapai.

Peran Intelektual Profetik Ikatan

Negara sangat membutuhkan generasi muda untuk menjadi generasi penenrus, Menurut Harold J. Laski. Mengartikan  Negara merupakan suatu masyarakat yang di intregasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara sah lebih agung dari pada individu atau kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat itu. (Dede Rrosyada dkk.2005:42 ). Melihat konteks diatas IMM sebagai salah satu organisasi mahasiswa berperan penting akan kemajuan bangsa dan  negara karena idealanya IMM adalah agen kebaikan yang tidak hanya baik dalam konsep, tapi baik dalam teknis. IMM selalu memberikan solusi yang terbaik dan solusi terbaik mereka adalah solusi islam. Peran IMM untuk mejadi agen perubahan haruslah kreatif, dengan gagasan intelektual Profetiksebagai salah satu gerakan alternatif, yaitu gerakan sosial transformatif yang menurut Prof. . Dr. Damsar dalam buku pengantar Sosiologi Politik menyatakan  Gerakan sosial transformatif, menunjukan pada  gerakan untuk mentransformasikan tatanan sosial itu sendiri. Para anggotanya memiliki keinginan hendak mengubah tatanan sosial masyarakat menjadi tatanan yang lebih baik menurut versi mereka. Jika dibandingkan dengan tipologi Horton dan Hunt, maka akan tampak persamaannya dengan gerakan revolusioner. Karena dalam gagasan IMM ada gagasan pembebasan  masyarakat yang tidak merdeka dalam pemikiran, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Peran yang sangat signifikan ini tentunya harus dari orang-orang intelek yang tidak hanya profetik, tapi juga seorang intelek yang mau mempertaruhkan nyawa dan waktu untuk memikirkan Indonesia ke depan. Untuk mencapai”keadilan sejati”seyogya nya hukum harus bersumber pada “Kitab Suci”. Supaya bisa di terima masyarakat dengan”legawa’’tanpa paksaan dan intimidasi. Kalau di pikir secara jernih,tidak ada hukum yang bisa di cari dan di terima masyarakat,untuk di terapkan secara”adil” selain hukum agama. Dengan kata lain,alternatif  terbaik untuk di jadikan “Konstitusi’’ sebuah negara adalah hukum Kitab Suci. Karena orang Islam pasti menerima Al-quran sebagai sumber hukum yang harus di patuhi dan di taatinya.Dalam islam, kemerdekaan pribadi dalam batas-batas konstitusi adalah sesuatu yang sangat fundamental yang tidak boleh tercemar oleh kekuatan apa pun dalam negara. Tetapi, setiap orang juga harus menunjukan tanggung jawab sosial untuk kepentingan bersama.Kemerdekaan individu tidak boleh merusak kehidupan kolektif. Dengan konsep amal ma’ruf nahi mungkar,islam ingin  membangun masyarakat yang ditegakan di atas nilai-nilai akhlak yang luhur,di antar umat terwujud secara nyata(Ahmad syafii Maarif,1996:194-195).

Tan Malaka mengatakan dalam buku Merdeka 100%: Tiga Percakapan Ekonomi Politik  disimpulkan bahwa Kemerdekaan Rakyat Indonesia baru TERJAMIN kalau Kemerdekaan POLITIK ada 100 % berada di tangan Rakyat Indonesia. Dan kalau Hak milik serta Kekuasaan atas EKONOMI modern sekurangnya 60 % berada di tangan Rakyat Indonesia pula.Peran kader Ikatan sangatlah di butuhkan untuk menjawab tantangan merdeka 100 % itu, Muslim Abdurrahman dalam bukunya Islam Transformatif adalah membangun suatu gerakan-gerakan yang setia terhadap nilai-nilai luhur untuk membangun sejarah kemanusiaan dalam rangka membangkitkan karunia Tuhan dalam bumi. Seorang cendidkiawan merupakan penafsir jalan hidup manusia selalu melaklukan transformasi terhadap tradisi yang ada. Cendikiawan pada dasarnya ada pekerja-pekerja budaya yang selalu berupaya agar kebudayaan berkemabang menjadi suatu yang lebih beradab, sesuai dengan tuntunan zaman berdasarkan nilai-nilai Ilahi. Pangkal atau titik tolak cendikiawan kegeliahan dan keprihatinan intelektual yang didasari kesadran nilai-nilai agama. Kesadaran tersebut merupakan selaras dengan keprihatinan yang dimiliki oleh para nabi, mujtahid, yang mempertanyakan keharusan teologis yang terpantul dalam realitas sosial. Oleh karena itu , tugas cedekiawan adalah meneruskan tradisi  kenabian dalam melakukan transformasi sosial yang berkeadilan guna terciptanya khoirul umat.

Tugas utama yang diemban oleh seorang intelektual adalah untuk merubah dunia bukan hanya menginterpretasi dunia. Sifat intelektual tersebut yang menjadikan ia bersikap aktif dalam sejarah dan melakukan pembenahan terhadap realitas sosial yang melakukan dehumanisasi dan eksploitasi terhadap alam. Setiap apa yang dilakukan oleh intelelektual profetik adalah sesuai dengan maqasid as-syaria’ah yang terdiri dari agama, jiwa, keturanan, harta akal dan ekologi. Sifat yang dibawa oleh intelektual profetik adalah agama untuk kemanusiaan dan menjadikan agama pemecahan persolan-persolan sosial empisis, dalam bidang sosial, ekonomi pengembangan masyarakat, penyadaran hak-hak politik rakyat dan mengeluarkan belenggu manusia dan masayarakat dari ketidakadilan. Proses transformasi sosial yang dilakukan sesuai dengan tiga pilar dalam etika profetik yaitu; humanisasi, liberasi dan trasendensi.

  1. 1.                  Humanisasi.

Humanisasi merupakan terjemah kreatif dari Amar ma’ruf yang memiliki makna asal menganjurkan atau menegakkan kebaikan. Amar ma’ruf  bertujuan untuk meningkatkan dimensi dan potensi positif manusia yang membawa kembali pada petunjuk ilahi untuk mencapai keadaan fitrahHumanisme menurut Kuntowijoyo konsep iman dan amal saleh yang dapat menghindari manusia jatuh pada dehumanisasi.kuntowijoyo mencoba melekukan humanisasi yang berdasar kepada agama,dimana merujuk iman dan amal saleh.

  1. 2.                  Liberasi

Liberasi merupakan terjemah dari nahi mungkar yang memiliki arti melalang atau mencegah segala tindak kejahatan.liberalisasi memiliki arti pembebasan terhadap manusia yang termajinalkan.liberalisasi yang mengilhami Kuntowijoyo adalah liberasi dalam konteks Marxinisme,liberal ini mengandung nilai-nilai transendesi.liberal dalam kerangka profetik untuk membebaskan manusia dari kekejaman kemiskinan,dominasi stuktur, kekerasan dan menolak konservatisme dalam agama.liberal dalam konsep profetik menjadikan agama sebagai nilai-nilai transendetal, sehingga agama menjadi ilmu yang objektif dan faktual.

  1. 3.                  Transendesi

Transendensi merupakan terjemah dari tu’minuna billah yang berarti beriman kepada allah. Gagasan ini merupakan jiwa dalam proses humanisasi dan liberasi. Menurut Erick From jika tidak menerima otoritas Tuhan secara otomatis akan berdampak pada; 1).relativitas penuh,dimana nilai dan norma sepenuhnya merupakan urusan pribadi. 2).nilai tergantung pada masyarakat sehingga dominan akan menguasai. 3).nilai tergantung pada kondisi biologis.

 

 

 

Sumber ;

Damsar .2010.Pengantar Sosiologi Politik.Jakarta: Kencana.

Falah, Reynal. 2009. Mensistemikan  Gerakan Perkaderan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jawa Tengah. DPD IMM Jawa Tengah.

Kuntowijoyo,Muslim Tampa Masjid,1999, Bandung : Mizan Utama.

Moeslim Abdurrahman. 1995.Islam Transformasi Jakarta : Pustaka Firdaus

Murkhan ,Abdul Munir.2000.Kesalehan Multikultural.jakarta:  Pusat Studi Agama Peradaban.

Maarif,Ahmad Syafii.1996.Islam dan  Politik.Jakarta : GEMA INSANI PRESS.

Rosiyada,Dede dkk.2005.Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani.Jakarta : Prenada Media.

Sani, Muhammad Abdul Halim. 2011. Manifesto Gerakan Intelektual Profetik. Yogyakarta: Samudra Biru.

Tan Malaka 2006, Merdeka 100%: Tiga Percakapan Ekonomi Politik. Marjin Kiri

Tim Penyusun. 2011. Sistem Perkaderan Ikatan IMM. Jakarta: DPP IMM

Tim Penyusun. 2012. Menatap Masa Depan Gerakan IMM: Refleksi Jelang Setengah Abad. Yogyakarta: SLP DPD IMM DIY

http://pkimmfarmasiuad.blogspot.com/2010/05/bab-iv-indikator-dan-metodologi.html.(di akses pada tanggal 10 juli 2012 pada pukul:16.55)

 

http://muda.kompasiana.com/2012/01/20/peran-intelektual-profetik-dalam-menegarakan-islam/..(di akses pada tanggal 10 juli 2012 pada pukul:16.20)

 

 

 

 

. Kerangka Ber…